Senja Mengukir Cerita

Rian Heryana
Chapter #1

#11 Bagian F Jejak Tak Terduga

Satu per satu, Damar memastikan teman-temannya sampai di rumah masing-masing dengan selamat. Ia memulai dengan mengantar Dona terlebih dahulu, mengingat rumahnya yang paling dekat dari rute perjalanan. Setelah itu, giliran Ica turun di rumahnya. Kini, hanya tersisa Dita.

“Aku duluan, ya!” ucap Dita sambil membuka pintu mobil dengan hati-hati.

“Iya, Dit. Hati-hati!” sahut Kikan dari kursi belakang, melambaikan tangan kecilnya.

Dita melangkah keluar dan segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kikan dan Damar berdua di dalam mobil.

“Nunggu apa lagi? Ayo jalan!” seru Kikan, sedikit tidak sabar.

Damar menoleh ke belakang, mengangkat alis dengan ekspresi seolah tak terima. “Duduknya pindah dulu ke depan, dong. Memangnya aku ini sopir?”

“Enggak mau!” Kikan menjawab dengan nada judes, sengaja menghindari kontak mata.

“Kalau gitu, mobilnya nggak akan jalan,” balas Damar santai, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

Kikan mendengus kesal, lalu keluar dari mobil dengan langkah berat untuk berpindah ke kursi depan. Begitu duduk di samping Damar, ia langsung berseru, “Ayo, buruan jalan! Jangan bikin aku tambah kesal!”

Damar menahan tawa. “Santai dong, Bu Bos. Gimana aku bisa fokus nyetir kalau kamu terus ngomel begitu?”

Mobil melaju perlahan, menyusuri jalanan malam yang diterangi lampu kota. Dari kaca jendela, Kikan melihat deretan toko yang mulai tutup, pedagang kaki lima yang sibuk merapikan dagangan, serta lampu-lampu jalan yang berpendar temaram. Suasana malam terasa tenang, hanya sesekali suara kendaraan lain melintas.

Di dalam mobil, suasana sempat terasa canggung. Setidaknya bagi Kikan. Sementara itu, Damar justru menikmati momen ini dengan diam-diam tersenyum. Sesekali, ia melirik ke arah gadis di sebelahnya yang sibuk memandang ke luar jendela, seolah menghindari tatapan mereka bertemu.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.

Lihat selengkapnya