Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #1

Perempuan yang Selalu Kalah Oleh Pikirannya

CHAPTER 1

"Tidak semua luka terlihat dari air mata. Ada beberapa orang yang tetap tertawa, tetap membantu orang lain, tetap terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam sedang hancur oleh pikirannya sendiri"

Malam itu hujan turun perlahan di kota kecil tempat Nara tinggal. Langit terlihat gelap sejak sore, seolah sedang ikut memendam sesuatu yang berat. Udara dingin menyusup masuk melalui jendela kamar yang sedikit terbuka, membuat tirai putih tipis di sudut ruangan bergerak pelan tertiup angin malam.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.48. Namun lampu kamar Nara masih menyala. Laptopnya terbuka di atas meja belajar dengan file tugas pengantar akuntansi yang bahkan belum mencapai setengah halaman. Buku-buku tebal berserakan di mana-mana. Sticky note warna-warni memenuhi dinding kamarnya seperti pengingat bahwa hidupnya tidak pernah benar-benar tenang.

Tetapi yang paling berisik malam itu bukan suara hujan. Melainkan isi kepala Nara sendiri.

Perempuan itu duduk sambil melamun di kursi belajarnya. Rambutnya berantakan. Matanya sembab karena kurang tidur beberapa hari terakhir.

Nara adalah type perempuan yang selalu terlihat kuat di depan semua orang. Ia aktif di kampus, pintar berbicara, berprestasi, mandiri, dan sering dijadikan contoh oleh banyak orang. Namun tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana ia memerangi dirinya sendiri setiap malam. Tentang rasa takut tidak cukup baik. Tentang rasa tidak pantas dicintai.  Tentang luka-luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Nara terlalu sering mendengar kalimat:

“Kamu kuat kok.”

“Kamu pasti bisa”

“Kamu orang hebat”

Sampai akhirnya ia lupa bagaimana caranya meminta tolong.

Masa lalu membuat Nara tumbuh menjadi seseorang yang selalu menyembunyikan kesedihan dengan senyuman.

Dulu ia pernah percaya sepenuhnya kepada seseorang. Namun kepercayaan itu justru menjadi alasan terbesar kenapa ia sulit membuka hati lagi sekarang.

Ia pernah dibanding-bandingkan, diremehkan, dan dianggap terlalu berlebihan hanya karena memiliki perasaan yang dalam.

Sejak saat itu,

Nara mulai membenci dirinya sendiri perlahan. Ia sering menangis hanya karena merasa wajahnya kurang cantik. Sering merasa dirinya tidak cukup menarik untuk dipertahankan. Sering overthinking bahkan terhadap hal-hal kecil. Kalau chat nya dibalas lama, ia langsung berpikir dirinya mengganggu. Kalau seseorang berubah sedikit, ia langsung menyalahkan dirinya sendiri. Hidup di dalam kepala Nara sangat melelahkan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu itu.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Notifikasi grup WhatsApp komunitas Akuntansi itu muncul. Grup itu memang tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada orang random yang tiba-tiba bertanya tugas tengah malam atau mengirim meme absurd saat ada tugas yang diberikan deadline dalam waktu dekat.

Nara membuka grup itu sambil tersenyum kecil.

“GUYS ADA YANG PAHAM TENTANG EKONOMI MAKRO?!” tulis seseorang.

“Ga tau bang, saya miskin ilmu,” balas yang lain.

“Tenang, yang penting jangan miskin cinta” muncul pesan baru.

Nara tertawa kecil tanpa sadar.

Nama pengirimnya:

Aksa.

Cowok misterius yang jarang muncul di grup, tetapi sekali berbicara selalu berhasil membuat suasana hidup.

Nara membalas spontan.

“Cinta gak bisa bantu pahamin tentang ekonomi makro. Tapi cinta bisa bikin semangat ngerjain.”

“Kalau ditinggal waktu lagi bingung?” tanya Aksa sambil tersenyum tipis.

“Itu namanya ujian hidup wkwk.” jawab Nara sambil tertawa.

Grup langsung penuh emoji tertawa.

Dan malam itu,

untuk pertama kalinya Nara memperhatikan seseorang bernama Aksa.

Awalnya semua terasa biasa saja. Hanya obrolan biasa saja antar mahasiswa semester satu yang sama-sama belum paham dunia perkuliahan.

Namun anehnya….

Obrolan yang terlihat biasa saja omongan mereka nyambung. Terlalu nyambung bahkan. Humor mereka sama-sama absurd. Cara berpikir mereka aneh. Keduanya sama-sama suka begadang tanpa alasan jelas.

Sejak malam itu,

Aksa mulai sering membalas chat Nara di grup. Kadang mereka berdebat soal hal tidak penting. Kadang saling mengirim meme random. Kadang hanya saling mengejek typo satu sama lain.

Namun semakin lama,

obrolan mereka terasa semakin berbeda. Terlihat menjadi lebih hangat dan nyaman. Seolah dua manusia asing itu sudah mengenal satu sama lain jauh sebelum dipertemukan semesta.

Dua hari kemudian,

mereka mulai chat pribadi.

Tidak ada kata manis. Tidak ada flirting berlebihan. Tidak ada gombalan murahan seperti hubungan kebanyakan. Hanya dua orang yang sama-sama nyaman bercerita tentang kampus, tugas, dan kehidupan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

Nara merasa didengarkan.

Malam itu mereka mengobrol sampai hampir subuh.

“Aku heran deh” tulis Nara.

Lihat selengkapnya