Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #3

Satu Bulan yang Terasa Seperti Rumah

CHAPTER 3

"Semakin nyaman seseorang, semakin besar juga rasa rakut kehilangannya. Karena ketika seseorang sudah menjadi tempat pulang, dunia terasa jauh lebih menakutkan tanpa keberadaannya."

Beberapa orang datang ke hidup kita bukan untuk membuat dunia menjadi lebih mudah. Melainkan untuk membuat kita lebih kuat saat menjalaninya.

Dan mungkin….

itulah alasan kenapa Aksa hadir di hidup Nara.

Hubungan mereka dimulai dengan sederhana. Tidak ada pertemuan romantis di bawah hujan. Tidak ada bunga. Tidak ada hadiah mahal.

Hanya dua manusia yang sama-sama lelah dengan hidup, lalu tanpa sengaja menemukan rumah satu sama lain. Namun justru karena kesederhanaan itu, hubungan mereka terasa nyata, hangat, dan perlahan… sulit dilepaskan.

Hari-hari pertama setelah mereka resmi berpacaran terasa asing sekaligus membahagiakan bagi Nara.

Ia belum terbiasa memiliki seseorang yang selalu kembali. Karena selama hidupnya, orang-orang datang hanya untuk sementara. Datang ketika dirinya terlihat menyenangkan. Lalu pergi saat melihat sisi rapuhnya.

Namun Aksa berbeda. Cowok itu tidak banyak bicara. Tidak terlalu romantis. Tidak sering mengucapkan kata sayang berkali-kali. Tetapi ia selalu ada.

Dan bagi Nara,

itu lebih dari cukup.

Pagi itu jam menunjukkan pukul 06.12. Suara alarm ponsel berbunyi nyaring memenuhi kamar kecil Nara. Perempuan itu mengerang pelan sambil menarik selimut lebih tinggi.

Semalam ia tidur pukul tiga pagi karena menyelesaikan tugas siklus akuntansi yang tidak ada habisnya. Matanya masih berat. Tubuhnya terasa lelah. Namun kelas pagi tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Dengan malas ia mengambil ponselnya.

Ada satu notifikasi masuk.

“Halooo sayangg, selamatt paggiii, bangun saayaangg, liatt inii udah jam beraappa??”

Pesan dari Aksa langsung membuat sudut bibirnya naik perlahan. Nara tersenyum kecil sambil menatap layar cukup lama.

Lucu sekali bagaimana seseorang bisa mengubah suasana hati hanya lewat satu kalimat sederhana. Lalu Ia membalas pesan dari Aksa.

“Ngantuk.” 

“Tidur lagi gih kalo masing ngantuk.” jawab Aksa

“Nanti telat.” ucap Nara.

“Yaudah semangat.” jawab Aksa kembali.

“Peluk dulu.” kata Nara sambil tersenyum tipis

Beberapa detik kemudian muncul balasan dari Aksa.

“Peluk virtual dulu ya.”

Dan pagi itu,

Nara tertawa kecil sendirian di kamar.

Hal sederhana seperti itu seharusnya terasa biasa saja. Namun bagi seseorang yang terlalu lama merasa sendirian, perhatian kecil bisa terasa sangat besar.

Hari-hari mereka perlahan dipenuhi rutinitas yang mulai menjadi kebiasaan. Bangun tidur mencari kabar satu sama lain. Saling ngasih perhatian. Bertukar foto. Mengeluh soal tugas. Main game bareng sampai lupa waktu. Tidur sambil teleponan. Kadang mereka hanya diam di panggilan selama berjam-jam. Namun anehnya, diam bersama Aksa tidak pernah terasa kosong. Justru terasa tenang. Seperti pulang setelah hari yang panjang.

Semester satu ternyata jauh lebih melelahkan dari bayangan mereka. Dosen mulai memberi tugas bertubi-tubi. Presentasi datang hampir setiap minggu. Belum lagi organisasi kampus yang menyita waktu dan tenaga.

Nara mulai sering tidur larut malam. Kadang bahkan tidak tidur sama sekali demi menyelesaikan laporan, revisi, kelompok, dan tugas lainnya. Tetapi di balik semua rasa lelah itu, ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Karena sudah dari sejak dulu, Nara terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya sendiri.

Malam itu hujan turun cukup deras. Suasana kamar Nara terasa dingin. Laptopnya masih menyala dengan banyaknya file tugas kampus yang belum selesai. Buku-buku berserakan di kasur, sementara secangkir susu hangat di meja sudah dingin sejak tadi.

Jam menunjukkan pukul 01.47 dini hari.

Namun perempuan itu masih duduk diam sambil menatap layar kosong. Pikirannya terlalu penuh untuk fokus. Tiba-tiba ponselnya berdering. Video call dari Aksa. Begitu panggilan diangkat, wajah cowok itu langsung muncul di layar. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya terlihat lelah. Namun senyumnya tetap hangat.

“Kamu belum tidur lagi?” ucap Aksa.

“Masih nugas Aksa, tugasnya banyak banget yang belum aku kerjain.” jawab Nara.

“Dari tadi?” tanya Aksa.

“Iya” jawab Nara sambil mengangguk kecil.

“Capek?” tanya Aksa lagi.

Pertanyaan sederhana itu langsung membuat dadanya sesak.

Karena sebenarnya….

ia memang sangat lelah. Bukan hanya soal tugas. Tetapi tentang hidup, ekspektasi, rasa takut gagal, dan rasa takut tidak cukup baik.

Lihat selengkapnya