Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #4

Dua minggu menjadi HTS

CHAPTER 4

"Bukan jarak yang paling menakutkan dalam sebuah hubungan, melainkan ketika dua hati masih saling mencintai, tetapi perlahan mulai kehabisan tenaga untuk saling memahami."

Malam itu hujan turun cukup lama. Rintiknya terdengar samar dari luar jendela kamar Nara, jatuh perlahan di atas atap rumah dan halaman yang basah sejak sore tadi. Langit terlihat gelap tanpa bintang. Udara dingin memenuhi seluruh sudut kamar kecil milik perempuan itu.

Jam di dinding menunjukkan pukul 01.57 dini hari. Namun lampu kamar masih menyala terang. Laptop di meja belajar masih terbuka dengan puluhan file tugas yang belum selesai. Buku jurnal akuntansi & laporan keuangan berserakan di lantai, bercampur dengan sticky notes warna-warni yang mulai terlepas dari dinding.

Nara duduk diam di bawah meja belajar sambil memeluk lututnya sendiri. Matanya kosong. Pikirannya terlalu penuh dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Aksa, ia mulai merasa hubungan mereka tidak lagi terasa sama.

Beberapa minggu terakhir hidup terasa begitu melelahkan bagi Nara. Semester satu ternyata jauh lebih kejam dari bayangannya. Dosen mulai memberi tugas bertubi-tubi tanpa peduli mahasiswa sudah tidur atau belum. Presentasi datang hampir setiap minggu. Belum lagi organisasi kampus yang membuat waktunya semakin habis. Tubuhnya mulai kelelahan. Matanya hampir selalu sembab. Kepalanya sering sakit karena kurang tidur. Namun semua itu sebenarnya masih bisa ia tahan.

Yang paling melelahkan justru isi kepalanya sendiri. Tentang rasa takut kehilangan. Tentang perubahan kecil yang perlahan ia rasakan dari Aksa. Tentang rasa takut bahwa semua kenyamanan ini suatu hari akan pergi begitu saja.

Nara sebenarnya sadar bahwa Aksa tidak berubah menjadi laki-laki yang jahat. Cowok itu masih perhatian. Masih mengingatkan makan. Masih bertanya apakah ia sudah istirahat. Masih mencoba mendengarkan ceritanya walaupun kadang dirinya sendiri juga kelelahan. Namun waktu mereka mulai berubah.

Dulu mereka bisa mengobrol sampai subuh tanpa merasa bosan. Sekarang... bahkan untuk bertukar cerita saja terasa sulit mencari waktu yang pas.

Dan bagi seseorang seperti Nara,

perubahan sekecil apa pun selalu terasa menakutkan.

Karena perempuan itu terlalu terbiasa ditinggalkan. Ponselnya tergeletak di samping laptop. Layar chat dengan Aksa masih terbuka. Pesan terakhir masuk hampir lima jam lalu.

“Lagi rapat organisasi ya, nanti aku kabarin lagi.”

Setelah itu…

Tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada pesan tambahan. Tidak ada kabar. Tidak ada panggilan. Dan semakin malam, pikiran Nara semakin sulit diajak tenang.

“Dia sibuk doang.”

“Jangan mikir aneh-aneh.”

“Tapi kenapa rasanya beda?”

“Mungkin dia mulai capek sama aku.”

“Mungkin aku terlalu banyak ngeluh.”

“Mungkin dia bosan.”

Isi kepalanya terus berbicara tanpa henti. Dan seperti biasanya, Nara kalah lagi melawan pikirannya sendiri. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengerjakan tugas. Namun baru beberapa menit mengetik, air matanya jatuh begitu saja. Tanpa suara. Tanpa alasan yang benar-benar jelas.

Kadang memang begitu rasanya menjadi seseorang yang terlalu lama menyimpan semuanya sendiri. Hal kecil bisa terasa sangat menyakitkan. Diam sedikit bisa berubah menjadi rasa takut ditinggalkan. Jeda balasan chat bisa berubah menjadi ribuan kemungkinan buruk di dalam kepala.

Dan yang paling melelahkan…

Nara sadar semua itu mungkin hanya ada di pikirannya sendiri, tetapi ia tetap tidak bisa menghentikannya.

Di sisi lain kota,

Aksa sedang duduk di lorong fakultas bersama beberapa anggota organisasinya. Wajah cowok itu terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya. Kaos hitam yang ia pakai sedikit kusut. Matanya sembab karena sudah hampir tiga malam terakhir kurang tidur.

Di depannya masih ada laptop dengan proposal kegiatan yang harus segera diselesaikan malam itu juga. Salah satu temannya menepuk pundaknya pelan.

“Aksa, lo gak balik?” kata temannya.

“Nanti aja, gue lagi masih harus kejar deadline proposal kegiatan, soalnya malam ini tenggatnya.” jawab Aksa.

“Besok kelas pagi loh, emangnya gak capek lo?” tanya temannya.

“Iya, aman gak apa-apa kok wkwk.” jawab Aksa lagi.

Jawabannya pendek. Seperti biasa. Namun sebenarnya pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Sejak tadi, ia terus membuka chat Nara berkali-kali.

Cowok itu tahu ada yang berubah dari perempuan itu akhir-akhir ini. Balasan chat nya mulai lebih singkat. Nada suaranya mulai terdengar lelah. Dan yang paling membuat Aksa takut… Nara mulai lebih sering berkata “gapapa.” Padahal selama mengenalnya, Aksa tahu bahwa kata “gapapa” milik Nara sering kali berarti “aku sebenarnya lagi hancur.”

Aksa mengusap wajahnya pelan sambil menatap layar ponsel. Ia ingin menelepon Nara malam itu. Ingin mendengar suaranya. Ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun tubuhnya terlalu lelah. Pikirannya juga penuh.

Dan tanpa sadar,

kelelahan mulai menciptakan jarak di antara mereka.

Pukul 02.21 dini hari,

Aksa akhirnya sampai di rumahnya. Tubuhnya terasa remuk. Begitu masuk kamar, ia langsung menjatuhkan diri ke kasur tanpa mengganti pakaian.

Lampu kamar masih mati. Hanya cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajahnya. Cowok itu membuka chat Nara perlahan. Masih belum ada pesan baru.

Ia menarik napas panjang sebelum mengetik:

Lihat selengkapnya