Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #5

Asing yang Masih Saling Memikirkan

CHAPTER 5

"Yang paling melelahkan bukanlah perpisahan, melainkan ketika dua orang masih saling mencintai, tetapi memilih berpura-pura bahwa semuanya telah selesai."

Malam setelah percakapan itu berakhir, hujan masih turun cukup deras di luar kamar Nara. Suara air yang jatuh ke atap rumah terdengar berulang-ulang seperti irama yang menemani pikirannya yang sejak tadi tidak pernah benar-benar tenang. Lampu kamar sengaja dimatikan sejak satu jam lalu. Hanya cahaya samar dari layar ponsel yang sesekali menerangi wajahnya yang terlihat lelah.

Nara duduk bersandar di sisi kasur sambil memeluk lututnya sendiri. Di sampingnya, laptop masih menyala dengan tugas laporan audit yang belum selesai sama sekali. Namun sejak tadi ia bahkan tidak membaca satu laporan pun dari file yang terbuka di layar.

Pikirannya terlalu penuh dan yang paling melelahkan bukan rasa sedih karena kehilangan hubungan mereka. Melainkan kenyataan bahwa setelah semua yang terjadi, dirinya masih tetap memikirkan Aksa hampir di setiap hal kecil dalam hidupnya.

Hubungan mereka sekarang terasa seperti lorong panjang yang membingungkan. Tidak benar-benar dekat. Namun juga tidak sepenuhnya jauh.

Mereka tidak lagi memiliki status apapun untuk saling menuntut. Tidak ada lagi kata “pacar” dan Tidak ada lagi kewajiban memberi kabar setiap saat. Namun anehnya, perhatian kecil itu masih tetap ada. Masih tersisa di sela-sela percakapan sederhana mereka dan justru karena itulah semuanya terasa semakin rumit. Karena ketika dua orang masih saling memikirkan tetapi memilih menahan perasaan masing-masing, hubungan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang melelahkan sekaligus candu.

Ponsel Nara tiba-tiba bergetar pelan di atas kasur. Notifikasi dari grup kecil mereka muncul di layar.

Aksa mengirim pesan:

“Yang belum paham tugas audit nanti aku jelasin ya.”

Salah satu teman mereka langsung membalas pesan Aksa :

“Rajin banget ketua kita satu ini hahaha.”

Beberapa detik kemudian muncul balasan lain dari Aksa.

“Bukan rajin sih. Tapi takut nilai hancur aja wkwk.” 

Nara membaca percakapan itu cukup lama tanpa sadar tersenyum kecil.

Jari-jarinya sempat ragu sebelum akhirnya ikut mengetik:

“Tumben takut nilai.”

Tak lama kemudian, Aksa membalas pesan lagi dalam 1 menit yang lalu.

“Takut kalah sama auditor masa depan.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat dada Nara terasa hangat. Justru karena kehangatan kecil seperti itulah semuanya terasa semakin sulit.

Hari-hari Nara setelah itu terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Ia mulai menjalani semuanya sendirian lagi. Bangun pagi tanpa pesan “selamat pagi.” Tidur malam tanpa suara Aksa di panggilan telepon. Makan tanpa ada seseorang yang mengingatkannya untuk menghabiskan makanan. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa sekarang justru meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Semakin ia mencoba membiasakan diri, semakin ia sadar bahwa dirinya sudah terlalu nyaman dengan keberadaan Aksa selama ini.

Kesibukan kuliah semester satu perlahan mulai menguras hampir seluruh tenaga Nara. Jadwal presentasi semakin padat. Tugas kelompok datang tanpa jeda. Belum lagi organisasi kampus yang membuat waktu istirahatnya semakin sedikit.

Tubuhnya mulai benar-benar kelelahan.

Beberapa malam terakhir ia bahkan hanya tidur dua sampai tiga jam sebelum kembali menghadapi aktivitas kampus yang tidak pernah memberi kesempatan untuk bernapas lebih lama. Namun di tengah semua rasa lelah itu, pikirannya tetap terus kembali kepada satu orang yang sama.

Aksa.

Nama yang sekarang tidak lagi hadir sebagai pasangan, tetapi masih tinggal begitu besar di dalam kepalanya. Kadang Nara membenci dirinya sendiri karena hal itu. Ia merasa terlalu lemah. Terlalu mudah terikat. Terlalu sulit melupakan seseorang yang bahkan sudah tidak lagi menjadi bagian pasti dari hidupnya. Namun perasaan memang tidak pernah bekerja dengan logika. Semakin ia mencoba melupakan, semakin banyak hal kecil yang justru mengingatkannya kembali.

Suara hujan mengingatkannya pada malam-malam panjang mereka. Langit sore membuatnya teringat kebiasaan saling mengirim foto senja. Lagu-lagu lama di playlist-nya terdengar jauh lebih menyakitkan dibanding sebelumnya. Bahkan beberapa kata sederhana yang biasa digunakan Aksa kadang masih terngiang di kepalanya tanpa alasan dan semua itu perlahan membuat Nara merasa semakin lelah dengan dirinya sendiri.

Suatu sore setelah kelas selesai, Nara duduk sendirian di kantin kampus sambil membuka laptop. Di depannya ada makanan yang tidak disentuh sejak tadi. Siska datang sambil membawa es milk tea dan langsung duduk di depannya.

“Nar, lo makan apa bengong sih?” tanya nya.

Nara tersadar dari lamunannya lalu tertawa kecil.

Lihat selengkapnya