Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #6

Empat Bulan yang Sunyi

CHAPTER 6

"Waktu memang mampu menjauhkan langkah, tetapi tidak selalu mampu menghapus seseorang yang telah menetap di hati."

Empat bulan ternyata cukup panjang untuk mengubah banyak hal. Kesibukan mulai mengambil sebagian besar waktu mereka. Rutinitas perlahan menggantikan kebiasaan lama dan rasa rindu yang dulu terasa begitu gaduh, kini berubah menjadi sunyi yang menetap diam-diam di dalam hati.

Namun anehnya,

meskipun waktu terus berjalan, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa melupakan. Mereka hanya belajar menyembunyikannya dengan lebih baik.

Bulan pertama setelah semuanya berubah terasa sangat berat bagi Nara. Hari-harinya dipenuhi tugas kuliah yang tidak pernah selesai. Laptopnya hampir selalu menyala dua puluh empat jam penuh. Meja belajarnya dipenuhi buku perpajakan, laporan keuangan, sticky notes warna-warni, dan secangkir air susu hangat yang sering kali dibiarkan kosong semalaman.

Semester dua benar-benar terasa seperti medan perang. Dosen mulai memberi tugas tanpa belas kasihan. Presentasi datang bertubi-tubi. Belum lagi kegiatan organisasi yang menyita waktu dan tenaga. Kadang Nara merasa hidupnya hanya berputar antara kelas, tugas, revisi, dan kurang tidur. Namun yang paling melelahkan sebenarnya bukan semua itu. Melainkan isi kepalanya sendiri.

Di tengah kesibukan yang terus memaksanya bergerak, nama Aksa masih tetap tinggal di sana. Kadang muncul saat ia melihat langit sore dari jendela kelas. Kadang datang ketika mendengar lagu tertentu di kantin kampus. Kadang muncul tiba-tiba saat ia sedang kelelahan mengerjakan tugas tengah malam.

Dan setiap kali itu terjadi,

dadanya selalu terasa sesak dengan cara yang sama. Nara mulai terbiasa menyembunyikan semuanya. Di depan teman-temannya, ia tetap tertawa seperti biasa. Tetap bercanda dan tetap terlihat kuat.

Namun saat malam datang dan suasana mulai sepi,

semua rasa yang selama ini ia tahan perlahan kembali memenuhi pikirannya.

Ia mulai sering duduk sendirian di kamar sambil memandangi layar ponselnya cukup lama. Bukan untuk menghubungi Aksa. Melainkan hanya untuk memastikan bahwa cowok itu masih ada di sana. Masih hidup di dunia yang sama dengannya.

Dan entah kenapa,

hal sederhana seperti itu saja sudah cukup membuat hatinya sedikit tenang.

Suatu malam hujan turun sangat deras di luar rumah Nara. Angin malam membuat jendela kamarnya bergetar pelan. Lampu kamar hanya menyala redup. Di meja belajar, laptopnya masih terbuka dengan file revisi laporan yang belum selesai.

Namun sejak tadi,

Nara tidak benar-benar fokus mengerjakan apa pun. Tatapannya kosong. Pikirannya terlalu lelah. Dan tanpa sadar, tangannya kembali membuka grup kecil mereka.

Grup yang hanya berisi empat orang :

dirinya, Aksa, dan dua teman perempuan lainnya.

Grup itu sekarang menjadi satu-satunya tempat di mana mereka masih bisa saling melihat keberadaan satu sama lain tanpa terasa terlalu dekat.

Di grup itu, Aksa baru saja mengirim file materi.

Lihat selengkapnya