Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #7

Lelaki yang Belajar Mencintai Diri Sendiri

CHAPTER 7

"Ada kehilangan yang tidak datang untuk menghancurkan seseorang, melainkan untuk memperkenalkannya pada versi terbaik dari dirinya sendiri."

Ada fase dalam hidup seseorang ketika rasa kehilangan perlahan mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Bukan lagi tentang bagaimana mempertahankan seseorang. Melainkan tentang bagaimana bertahan sebagai diri sendiri setelah semuanya berubah. Dan tanpa Aksa sadari, empat bulan yang sunyi itu perlahan membentuk dirinya menjadi seseorang yang berbeda.

. . .

Dulu,

Aksa adalah tipe laki-laki yang hidupnya berjalan begitu saja. Tidak banyak bicara.Tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian dan terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Ia menjalani hari seperti kebanyakan orang yaitu kuliah, pulang, mengerjakan tugas, lalu mengulang semuanya lagi keesokan harinya. Hidupnya tenang. Namun juga terasa kosong dalam banyak hal.

Sampai akhirnya Nara datang dan membuatnya mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Perempuan itu pernah membuat Aksa merasa bahwa dirinya cukup berarti untuk seseorang. Bahwa kehadirannya benar-benar dibutuhkan. Bahwa perhatian kecilnya ternyata bisa membuat seseorang merasa lebih tenang menjalani hidup.

Dan mungkin karena itulah,

ketika hubungan mereka mulai merenggang,

Aksa merasa kehilangan sebagian arah hidupnya. Empat bulan yang sunyi menjadi masa paling melelahkan bagi dirinya. Tidak ada satu malam pun yang benar-benar ia lewati tanpa memikirkan Nara. Namun di tengah rasa kehilangan itu,

Aksa mulai menyadari satu hal penting:

ia tidak bisa terus hidup hanya dengan bergantung pada seseorang.

Karena kalau suatu hari semuanya kembali hilang,

ia akan kembali hancur dengan cara yang sama.

Dan untuk pertama kalinya, Aksa mulai belajar mencintai dirinya sendiri. Perubahan itu dimulai secara perlahan. Awalnya hanya karena ingin mengalihkan pikirannya dari rasa rindu yang terlalu besar. Ia mulai mencoba menyibukkan diri dengan banyak hal. Mengikuti kegiatan kampus. Mengambil tanggung jawab lebih besar di organisasi. Menghabiskan malam-malam panjang dengan belajar dan membaca.

Namun semakin ia menjalani semuanya, semakin ia sadar bahwa dirinya ternyata mampu berkembang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

. . .

Suatu malam,

Aksa duduk sendirian di balkon rumahnya sambil membuka laptopnya. Langit terlihat gelap. Udara malam terasa dingin setelah hujan turun cukup deras. Di layar laptopnya terbuka formulir pendaftaran duta parlemen muda Indonesia tingkat kab/kota. Sudah hampir satu jam formulir itu terbuka tanpa benar-benar ia isi. Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena Aksa selalu merasa dirinya tidak cukup layak untuk berada di tempat sebesar itu. Ia terlalu sering meragukan dirinya sendiri. Terlalu sering merasa kalah sebelum mencoba.

Dan mungkin selama ini,

tidak ada yang benar-benar menyadarkan dirinya bahwa ia sebenarnya punya kemampuan lebih besar dari yang ia pikirkan.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi pelan. Notifikasi dari grup kecil mereka muncul di layar. Kemudian seseorang mengirim pesan di grup tersebut.

Nara.

Nara mengirim pesan:

Lihat selengkapnya