CHAPTER 8
"Terkadang, semesta mempertemukan kembali dua orang bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada hati yang belum pernah benar-benar saling melepaskan."
Beberapa orang memang tidak pernah benar-benar pergi dari hidup kita. Mereka mungkin sempat menjauh. Sempat hilang kabar. Sempat berubah menjadi asing yang saling diam. Namun anehnya, nama mereka tetap tinggal paling lama di dalam kepala dan hati kita. Selama empat bulan yang sunyi itu, Nara mulai sadar bahwa Aksa adalah salah satu orang yang tidak pernah benar-benar berhasil ia lepaskan.
Awalnya Nara mengira waktu akan membantu dirinya melupakan. Ia pikir kesibukan kuliah, tugas yang tidak pernah selesai, organisasi, dan rasa lelah menjalani semester dua akan perlahan menghapus semua tentang Aksa dari hidupnya. Namun ternyata tidak sesederhana itu.
Karena semakin sibuk dirinya, semakin banyak hal kecil yang justru mengingatkannya pada cowok itu. Cara langit berubah jingga saat sore. Lagu-lagu lama yang dulu sering mereka dengarkan bersama. Bahkan hal sesederhana melihat notifikasi grup kecil mereka saja masih bisa membuat jantung Nara berdebar kecil tanpa alasan dan yang paling membuatnya lelah adalah kenyataan bahwa perasaan itu belum benar-benar hilang meskipun waktu sudah berjalan cukup jauh.
Setelah pertemuan mereka beberapa waktu lalu, hubungan Nara dan Aksa perlahan kembali berubah. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak lagi sejauh sebelumnya. Mereka mulai terbiasa bertukar kabar lagi. Mulai saling ngasih perhatian kecil. Mulai kembali bercanda tentang hal-hal kecil seperti dulu. Semuanya berjalan sangat pelan. Sangat hati-hati. Seolah keduanya takut salah langkah dan kembali menghancurkan apa yang perlahan mulai membaik. Namun justru karena semuanya terasa pelan, setiap perhatian kecil dari Aksa kembali memiliki tempat besar di hati Nara.
Dan tanpa sadar,
perempuan itu mulai kembali menyimpan nama Aksa di bagian paling tenang dalam hidupnya.
Malam-malam Nara setelah itu terasa sedikit berbeda. Walaupun tugas masih menumpuk, walaupun tubuhnya masih sering kelelahan karena kurang tidur, setidaknya sekarang ada seseorang yang perlahan kembali membuat harinya terasa lebih ringan.
Kadang Aksa tiba-tiba mengirim pesan sederhana seperti :
“Udah makan belum?”
Atau
“Jangan tidur subuh terus.”
Kalimat-kalimat kecil yang dulu pernah hilang itu sekarang kembali hadir pelan-pelan dalam hidup Nara.
Dan anehnya,
hal sesederhana itu saja masih bisa membuat perempuan itu tersenyum sendiri di tengah rasa lelahnya.
. . .
Suatu malam,
Nara sedang mengerjakan laporan perpajakan di kamar sambil ditemani suara hujan kecil dari luar jendela. Lampu meja belajar menyala redup. Laptopnya penuh file revisi dan matanya mulai terasa panas karena kurang tidur beberapa hari terakhir.
Namun di tengah suasana sunyi itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pesan dari Aksa muncul di layar.
“Masih nugas?”
Nara menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas.
“Iya.”
“Belum tidur juga berarti.”
“Belum bisa.”
Beberapa detik setelah itu, Aksa kembali mengirim pesan.
“Capek ya?”
Kalimat sederhana itu langsung membuat dada Nara terasa hangat. Karena setelah sekian lama, akhirnya ada lagi seseorang yang bertanya tentang rasa lelahnya. Dan orang itu masih tetap yaitu Aksa.
Nara tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Jujur saja, ia merindukan perhatian-perhatian kecil seperti ini. Merindukan perasaan ditemani. Merindukan rasa tenang karena tahu ada seseorang yang masih memikirkan dirinya di tengah malam yang melelahkan. Namun di balik rasa nyaman itu, Nara juga menyimpan ketakutan yang jauh lebih besar. Ia takut terlalu berharap lagi. Takut kembali jatuh terlalu dalam. Karena hubungan mereka sekarang masih terlalu abu-abu. Tidak ada kepastian. Tidak ada status yang benar-benar menjelaskan mereka. Dan justru karena itulah, Nara sering kali merasa bingung dengan isi hatinya sendiri.
Kadang ia ingin kembali sedekat dulu. Namun di sisi lain, ia takut harus merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya. Karena kehilangan Aksa sekali saja sudah cukup membuat dirinya berubah sejauh ini.
Hari-hari terus berjalan. Dan tanpa sadar, mereka mulai semakin sering bertemu.
Pertemuan pertama setelah sekian lama membuat semuanya terasa canggung sekaligus hangat. Namun pertemuan kedua dan ketiga perlahan membuat mereka kembali menemukan kenyamanan yang dulu pernah hilang.
Suatu Pagi,
Aksa mendadak mengajak Nara untuk bertemu secara langsung di kampus setelah kelas selesai. Nara ingin minta di ajarkan tentang tugas materi yang ada di kampus untuk keperluan nilai UTS di mata kuliah Akuntansi. Oleh karena itu, Aksa langsung mengambil keputusan mengajak Nara bertemu secara langsung untuk diajarkan tugas kuliah yang belum ia pahami. Aksa mengajak Nara ketemuan langsung sambil di temani oleh temannya bernama Bang Dimas yang masih sedang berkuliah. Temannya itu adalah sahabat jauh yang tinggal di kota Jakarta dan seorang mahasiswa semester akhir. Aksa membawa seorang temannya yaitu agar bisa mengajarkan materi yang belum dipahami oleh Nara.
Jarak tempat kampus Aksa dan Nara lumayan jauh. Karena Aksa seorang laki-laki maka ia harus yang jemput Nara ke tempat kampusnya dengan penuh effort yang ia punya sambil membawa temannya.
Siang itu matahari terasa sangat terik. Udara panas memenuhi jalanan kota sampai membuat aspal terlihat sedikit bergetar karena pantulan cahaya matahari. Kendaraan berlalu-lalang memenuhi jalan raya, sementara suara klakson dan mesin kendaraan bercampur menjadi kebisingan khas jam sibuk menjelang sore.
Karena jarak kampus Nara cukup jauh dari kampus mereka, Aksa dan Bang Dimas akhirnya memutuskan berangkat menggunakan GoCar. Selain lebih cepat, cuaca siang itu benar-benar terlalu panas untuk perjalanan jauh.
. . .
Di dalam mobil, Bang Dimas duduk sambil memangku laptopnya dengan wajah stres sejak tadi. Sementara Aksa duduk di samping jendela sambil sesekali melihat layar ponselnya.
“Gue heran kenapa hidup semester akhir harus sesusah ini,” keluh Bang Dimas sambil mengusap wajahnya kasar.
“Baru juga presentasi kelompok.” jawab Aksa.
“LU TAU APA.” gumam Bang Dimas.
Aksa tertawa kecil mendengar itu. Bang Dimas langsung menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sambil menghela napas panjang.
“Template PPT gue aja belum jadi. Kelompok gue isinya ilang semua.” ucapnya.
“Makanya cari kelompok yang niat.” jawab Aksa
“Kalau bisa milih, gue udah milih hidup gampang.” jawab Bang Dimas
Aksa kembali tertawa pelan. Namun di sela obrolan santai itu, cowok itu tetap sesekali membuka chat bersama Nara.
Entah kenapa, perjalanan menuju kampus perempuan itu membuat pikirannya terasa sedikit tidak tenang. Sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu langsung. Dan meskipun ia terlihat biasa saja, sebenarnya ada rasa gugup kecil yang sejak tadi tidak bisa ia abaikan.
. . .
Sekitar empat puluh menit kemudian, GoCar yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan kampus Nara. Area kampus terlihat cukup ramai oleh mahasiswa yang baru keluar kelas. Beberapa orang berjalan sambil membawa laptop dan minuman dingin, sementara yang lain duduk di taman kampus sambil mengerjakan tugas kelompok.
Aksa turun lebih dulu lalu melihat sekeliling area kampus Nara. Sementara Bang Dimas langsung mengeluh pelan karena cuaca masih terasa panas meskipun sore mulai mendekat.
“Anjir panas banget cuacanya cok.”
Aksa mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada Nara.
“Perpustakaan kampus kamu ada di sebelah mana Nara?”
Tidak lama kemudian, Nara membalas cepat.
“Kamu tinggal masuk lobby kampus terus nengok ke kiri aja udah terlihat perpustakaan kampus nya.”
“Aku masih ada jadwal kelas.”
Aksa membaca pesan itu pelan lalu mengangguk kecil.
“Ayo kita ke perpustakaan dulu Bang Dimas.”
. . .
Mereka akhirnya masuk ke gedung kampus dan menuju perpustakaan. Begitu pintu perpustakaan terbuka, suasana langsung terasa jauh lebih dingin dan tenang dibanding di luar. Aroma buku, pendingin ruangan, dan suara keyboard laptop mahasiswa memenuhi ruangan. Aksa dan Bang Dimas memilih duduk di dekat jendela besar yang menghadap samping halaman kampus.
Di luar, langit perlahan mulai mendung. Aksa langsung membuka laptop dan buku ekonominya. Besok pagi ia harus menghadapi UTS ekonomi Makro, dan beberapa materi masih belum benar-benar masuk ke kepalanya. Cowok itu mulai fokus membaca dan membuat catatan kecil di bukunya. Sesekali ia mengernyit pelan ketika menemukan materi yang sulit dipahami. Sementara di depannya, Bang Dimas sibuk membuka Pinterest dan beberapa website template presentasi.
Cowok semester akhir itu terlihat benar-benar tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kadang ia menghela napas panjang. Kadang memijat pelipisnya yang sedang frustrasi.
“Kenapa template yang bagus malah pada bayar semuanya sih anjir…. ” gumamnya pelan.
Aksa hanya tertawa kecil tanpa mengalihkan fokus dari catatannya.
“Bikin sendiri.”
“Boleh, tapi kalau gue punya waktu dan mental ya wkwk....” jawab Bang Dimas.
Waktu berjalan cukup lama.
Suasana perpustakaan perlahan semakin sepi karena beberapa mahasiswa mulai pulang setelah kelas selesai. Namun Aksa dan Bang Dimas masih tetap duduk di sana. Sampai akhirnya waktu ashar selesai. Dan tepat setelah itu, ponsel Aksa bergetar pelan di atas meja. Pesan dari Nara muncul di layar.
“Kelasku udah selesai, Aksa”
Beberapa detik kemudian, muncul pesan lagi.
“Aku ke toilet bentar ya.”
Aksa membaca pesan itu singkat lalu membalas :
“Iya Nara, aman aja.”
Sementara itu di toilet kampus, Nara berdiri cukup lama di depan cermin. Hari itu tubuhnya terasa jauh lebih lelah karena sedang menstruasi. Sejak siang perutnya sakit, ditambah quiz dan soal tentang corporation & saham tadi membuat kepalanya terasa penuh. Ia sempat panik karena celananya sedikit terkena noda, jadi ia memutuskan mengganti celananya terlebih dahulu sebelum bertemu Aksa.
Setelah selesai,
Nara merapikan rambutnya perlahan sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Jantungnya terasa sedikit gugup. Padahal mereka hanya akan makan dan belajar bersama. Namun setelah empat bulan yang sunyi itu, bertemu kembali dengan Aksa selalu terasa berbeda.
. . .
Beberapa menit kemudian, Nara berjalan menuju lift kampus sambil membawa tas hitamnya yang biasa ia bawa ke kampus. Dan tepat saat pintu lift terbuka, ia langsung melihat Aksa dan Bang Dimas menuju depan lift.
Untuk beberapa detik, suasana terasa sedikit canggung. Namun Bang Dimas langsung memecahkan suasana lebih dulu.
“Ya ampun akhirnya selesai juga kelasnya.”
Nara langsung tertawa kecil.
“Maaf ya kalian nunggu lama…. ”
“Gapapa, santai aja” jawab Aksa pelan.
Tatapan cowok itu tanpa sadar memperhatikan wajah Nara beberapa detik lebih lama. Perempuan itu terlihat lelah, tetapi tetap sama seperti yang selalu ia ingat.
Dan anehnya,
melihat Nara dari jarak sedekat ini lagi membuat suasana hati Aksa terasa jauh lebih tenang.
“Laper gak?” tanya Bang Dimas cepat.
“Banget wkwk” jawab Nara jujur.
“Tadinya mau ke kantin,” ucap Aksa.
Nara langsung menggeleng kecil.
“Kantin rame banget jam segini.”
“Terus?”
“Lawson aja yuk. Deket kok dari sini.”
Bang Dimas langsung mengangguk cepat.
“Gas. Gue udah lapar sama stres.” gumamnya
Mereka bertiga akhirnya berjalan keluar kampus menuju Lawson. Udara sore terasa sedikit lebih dingin karena langit mulai mendung. Lampu jalan perlahan menyala satu per satu sementara kendaraan masih ramai memenuhi jalan sekitar kampus.
Bang Dimas berjalan di belakang sambil sibuk memikirkan presentasi kelompoknya minggu depan. Cowok itu bahkan beberapa kali terlihat mengetik sesuatu di ponselnya sambil menghela napas panjang. Sementara di depan nya, Aksa dan Nara berjalan bersebelahan.
“Quiz saham tadi gimana?” tanya Aksa pelan.
Nara langsung menghela napas panjang dramatis.
“Hancur wkwk, pusing banget aku.”
“Segitunya?”
“Aku liat soal corporation langsung pengen tidur.”
Aksa tertawa kecil.
Dan suara tawa itu langsung membuat Nara ikut tersenyum tanpa sadar.
“Kamu sendiri sibuk apa akhir-akhir ini?” tanya Nara.
“Belajar ekonomi makro.” jawab Aksa
“Jawaban kamu kenapa serius banget sih.” ucap Nara sambil tersenyum tipis
“Soalnya besok aku ada UTS ekonomi makro.”
Nara langsung tertawa kecil.
“Pantes tadi fokus banget di perpus.”
“Kalau gak belajar nanti aku bisa jadi miskin kedepannya.” ucap Aksa.
“Miskin bareng aja.” jawab Nara sambil tertawa.
“Ogah wkwk.” ucap Aksa sambil ikut tertawa juga
Nara langsung memukul pelan lengan Aksa sambil tertawa kecil. Dan tanpa sadar, Aksa ikut tersenyum melihat reaksi perempuan itu. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat Nara tertawa selepas ini di dekatnya.
. . .
Langit sore semakin gelap perlahan. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang sedikit basah oleh hujan sebelumnya.
Di sepanjang perjalanan menuju Lawson, obrolan mereka terus berlanjut tentang banyak hal kecil. Tentang dosen, tugas kuliah, rasa capek menjalani semester dua. Dan semakin lama mereka berbicara, semakin terasa jelas bahwa kenyamanan di antara mereka ternyata belum benar-benar hilang.
“Capek gak sih jadi mahasiswa?” tanya Nara tiba-tiba.
“Capek.”
“Terus kenapa masih bertahan?”
Aksa terdiam sebentar sebelum menjawab pelan :
“Karena masih punya tujuan.”
Nara menoleh perlahan ke arah cowok itu. Dan entah kenapa, jawaban sederhana itu terasa jauh lebih dalam dibanding yang terlihat. Sementara di belakang, Bang Dimas akhirnya mengangkat wajah dari ponselnya lalu melihat dua orang di depannya. Cowok itu hanya menggeleng kecil sambil tersenyum samar. Karena diam-diam, ia sadar satu hal:
empat bulan menjadi asing ternyata tidak benar-benar membuat Aksa dan Nara kehilangan rasa nyaman mereka satu sama lain.
Perjalanan menuju Lawson tidak terlalu jauh, tetapi entah kenapa terasa cukup panjang bagi Nara. Mungkin karena sudah terlalu lama ia tidak berjalan bersebelahan seperti ini bersama Aksa atau mungkin karena suasana sore itu terasa terlalu nyaman sampai ia diam-diam berharap jalannya bisa sedikit lebih lama.
Langit semakin gelap perlahan. Angin sore bertiup dingin setelah hujan kecil tadi, membuat udara di sekitar jalan kampus terasa jauh lebih tenang dibanding siang sebelumnya. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya hangat di jalanan yang masih sedikit basah.
Aksa dan Nara masih berjalan di depan sambil mengobrol pelan. Sementara Bang Dimas tetap mengikuti di belakang sambil sibuk membuka chat kelompok presentasinya. Sesekali cowok semester akhir itu menghela napas panjang sendiri.
“Anjir… anggota kelompok gue online tapi gak ada yang bales revisi.”
Nara langsung tertawa kecil sambil menoleh ke belakang.
“Sabar bang wkwk” jawab Nara.
“Gue pengen pindah jurusan aja rasanya.” gumam Bang Dimas.
Aksa ikut tertawa pelan.
“Telat.” jawab Aksa sambil tertawa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di Lawson dekat kampus Nara. Lampu putih terang dari minimarket itu langsung menyambut mereka begitu pintu otomatis terbuka. Suasana di dalam cukup ramai. Beberapa mahasiswa duduk di area kursi sambil mengerjakan tugas kelompok, ada yang sekadar nongkrong, ada juga yang sibuk bermain laptop sambil makan mie instan. Aroma makanan hangat, kopi, dan pendingin ruangan langsung terasa nyaman setelah perjalanan dari kampus tadi.
“Akhirnya…. ” gumam Bang Dimas sambil memegang perutnya.
“Aku lapar banget” sambung Nara pelan.
Aksa hanya tertawa kecil melihat mereka.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju rak makanan. Nara berdiri cukup lama di depan rak makanan hangat sambil berpikir.
“Makaroninya enak gak sih?”
“Kayaknya enak, karna gak mungkin gak enak, kalo gak enak mana mungkin orang pada mau beli di sini wkwk” jawab Rendra santai sambil tertawa.
“Iya juga sih hahaha, eumm…, btw pedes gak ya makaroni nya…. ” tanya Nara.
“Kayaknya dikit sih Nara, jadi kayak gak terlalu pedes banget” jawab Aksa pelan.
“Aku mau itu aja deh Aksa, kayak keliatan enak juga makaroninya.” ucap Nara.
Aksa langsung mengambil dua makaroni instan dari rak pemanas tanpa banyak bicara. Nara menatap cowok itu sebentar, lalu tersenyum kecil tanpa sadar. Hal-hal sederhana seperti diperhatikan diam-diam oleh Aksa masih selalu berhasil membuat hatinya terasa hangat.
Setelah itu mereka berjalan menuju lemari pendingin minuman. Aksa mengambil dua es teh manis dingin, sementara Bang Dimas memilih paket nasi ayam dan es teh karena sejak siang belum makan sama sekali.
“Kalau gue gak makan sekarang, presentasi minggu depan bisa gue presentasiin sambil pingsan,” keluhnya.
Nara langsung tertawa kecil.
Mereka akhirnya menuju kasir. Namun saat Nara membuka tasnya, wajahnya langsung berubah panik kecil. Ia membuka dompetnya beberapa kali, lalu menatap Aksa dengan ekspresi bersalah.
“Aduh mana ya uangnya…. ” ucap Nara.
“Kenapa?” tanya Aksa pelan.
“Aku gak bawa uang cash Aksa, kayaknya tertinggal di rumah deh…. ” jawab Nara.
Nara terlihat malu sendiri sambil kembali mengecek isi tasnya meskipun ia tahu hasilnya tetap sama. Bang Dimas yang berdiri di belakang langsung tertawa kecil.
“Mahasiswa sejati.”
Nara menutup wajahnya sebentar karena malu.
“Serius aku lupa bawa…. ” ucap Nara.
Namun sebelum perempuan itu selesai bicara, Aksa sudah lebih dulu mengeluarkan uang dan membayar semua pesanan mereka dengan tenang.
“Nanti aku ganti,” ucap Nara cepat.
“Gak usah.” jawab Aksa.
“Aku serius.” ucap Nara lagi.
“Udah, gak apa-apa santai aja wkwk.” jawab Aksa lagi sambil tersenyum tipis.
Jawaban singkat itu langsung membuat Nara diam. Dan entah kenapa, perhatian kecil seperti itu justru membuat dadanya terasa semakin tidak tenang. Karena semuanya masih terasa sama seperti dulu.
Setelah makanan mereka selesai dipanaskan, mereka mulai mencari tempat duduk. Lawson sore itu cukup ramai, tetapi masih ada satu meja kosong di bagian pojok dekat jendela besar. Tempatnya cukup tenang dan nyaman untuk belajar.
“Ayo kita kesana sebelum diambil orang,” ucap Bang Dimas cepat sambil berjalan duluan.
Mereka akhirnya duduk di meja itu.
Bang Dimas langsung membuka laptopnya lagi bahkan sebelum makanannya habis dibuka. Cowok itu benar-benar terlihat tidak bisa lepas dari pikiran tentang presentasi kelompoknya.
“Aduh template ini jelek lagi…. ”
Aksa langsung tertawa kecil.
“Makan dulu.” ucapnya.
“Kalau gue gagal presentasi hidup gue tamat.” jawab Bang Dimas.
Sementara itu, Nara duduk di samping Aksa sambil membuka makaroni miliknya perlahan. Aroma makanan hangat langsung memenuhi meja kecil itu.
Di luar jendela, hujan kecil mulai turun lagi membasahi jalanan kota. Lampu kendaraan memantul di aspal yang basah, membuat suasana malam terasa jauh lebih tenang dan hangat. Aksa kemudian membuka laptopnya sambil menggeser sedikit posisi duduk mendekati Nara.