CHAPTER 9
"Barangkali, kesempatan kedua tidak datang untuk mengulang kisah yang sama. Ia datang agar dua hati yang pernah saling kehilangan bisa belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa."
Malam setelah pertemuan di lobby kampus itu terasa jauh lebih panjang dibanding biasanya.
Langit kota masih basah oleh sisa hujan sore tadi. Jalanan di depan rumah Nara terlihat sepi ketika perempuan itu turun dari motor adiknya sambil membawa tas hitamnya yang sejak tadi terasa berat di pundaknya. Lampu teras rumahnya sudah menyala, sementara dari dalam rumah terdengar suara televisi kecil yang masih hidup menandakan umi dan keluarganya belum benar-benar tidur.
Namun berbeda dari hari-hari sebelumnya, malam itu isi kepala Nara terasa jauh lebih ramai. Bukan karena tugas. Bukan karena latihan soal dan quiz yang tadi sempat membuatnya hampir menangis di kelas dan bukan juga karena rasa lelah semester dua yang akhir-akhir ini terus menguras tenaganya. Melainkan karena seseorang yang kembali hadir setelah empat bulan yang sunyi.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Nara duduk sendirian di atas kasurnya sambil memeluk lutut. Lampu kamar dimatikan. Hanya cahaya kecil dari layar ponselnya yang menerangi wajah perempuan itu di tengah kamar yang gelap dan dingin.
Matanya menatap layar chat bersama Aksa cukup lama. Terlihat kosong dan tidak ada pesan baru. Namun anehnya, keheningan malam itu terasa berbeda dari biasanya. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara merasa dirinya tidak benar-benar sendirian lagi.
Pertemuan sederhana di Lawson tadi ternyata meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia kira. Cara Aksa mendengarkan semua ceritanya. Cara cowok itu tetap memperhatikan dirinya meskipun mereka pernah menjadi asing cukup lama. Cara ia masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya tanpa perlu diberi tahu ulang. Semuanya perlahan membuat dinding yang selama ini dibangun Nara mulai retak sedikit demi sedikit.
Di sisi lain kota, Aksa juga belum tidur. Cowok itu duduk di meja belajarnya dengan buku ekonomi makro yang terbuka sejak satu jam lalu namun tidak benar-benar dibaca. Laptopnya masih menyala menampilkan file materi UTS yang harus dipelajari untuk esok pagi, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk fokus memahami satu kalimat pun.
Suasana kamarnya sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin dan bunyi notifikasi laptop sesekali. Namun di tengah kesunyian itu, pikiran Aksa justru dipenuhi suara Nara tadi malam. Tentang rasa takut perempuan itu. Tentang overthinking yang ternyata selama ini dipendam sendirian. Tentang bagaimana Nara mencoba terlihat kuat padahal diam-diam sering kelelahan menghadapi pikirannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak hubungan mereka berakhir, Aksa mulai benar-benar sadar bahwa rasa nyaman itu ternyata belum hilang.
Ia masih peduli.
Masih memperhatikan dan masih diam-diam memikirkan perempuan yang dulu pergi meninggalkannya tanpa penjelasan yang cukup.
. . .