CHAPTER 10
"Di antara hujan, tugas yang tak kunjung selesai, dan malam-malam yang dipenuhi pikiran, mereka menemukan bahwa pulang bisa sesederhana seseorang yang tetap bertanya, 'Udah pulang belum?', lalu memilih tetap tinggal."
Hujan turun cukup lama malam itu. Air menetes perlahan dari atap rumah, membuat suasana malam terasa lebih dingin dibanding biasanya. Jalanan depan rumah Nara terlihat sepi sejak magrib tadi, hanya sesekali kendaraan lewat dengan suara samar yang kemudian kembali hilang ditelan hujan.
Di dalam kamar, Nara masih duduk di depan laptopnya. Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya dari layar laptop dan lampu meja kecil yang menerangi wajahnya yang terlihat lelah. File tugas akuntansi yang sejak tadi ia kerjakan belum juga selesai. Angka-angka di layar mulai terlihat membingungkan. Kepalanya terasa berat dan matanya mulai panas karena terlalu lama menatap laptop. Namun yang paling melelahkan sebenarnya bukan tugasnya. Melainkan isi pikirannya sendiri.
Sejak kembali dekat dengan Aksa, hidup Nara memang terasa sedikit lebih hangat. Tetapi di sisi lain, hal itu juga membuat banyak rasa lama perlahan muncul kembali. Rasa takut kehilangan, rasa takut berharap terlalu jauh dan rasa takut mengulang luka yang sama seperti dulu.
Karena setelah empat bulan menjadi asing, Nara sadar satu hal:
ia masih belum benar-benar bisa melupakan cowok itu.
Dan mungkin, ia memang tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan Aksa.
Ponselnya tiba-tiba bergetar pelan di samping laptop. Nama Aksa muncul di layar. Perempuan itu langsung terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membuka pesan tersebut.
“Belum tidur?”
Sederhana. Namun cukup membuat hati Alera terasa sedikit tenang. Jari perempuan itu perlahan mulai mengetik balasan.
“Belum. Lagi nugas.”
Tidak sampai satu menit, balasan kembali datang.
“Jangan dipaksa kalau udah capek.”
Nara tersenyum kecil. Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun bagi dirinya, perhatian kecil dari Aksa selalu punya cara sendiri untuk membuat hari yang berat terasa lebih ringan. Karena setelah sekian lama, akhirnya ada lagi seseorang yang memperhatikan dirinya bahkan untuk hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Malam itu mereka kembali mengobrol cukup lama. Bukan obrolan romantis seperti pasangan pada umumnya.
Mereka hanya membicarakan kehidupan masing-masing. Tentang tugas kampus, rasa lelah, dosen yang terlalu sering memberi revisi, dan bagaimana kehidupan semester dua ternyata jauh lebih berat dibanding ekspektasi mereka dulu. Namun justru karena sederhana, semuanya terasa nyaman. Tidak ada tuntutan untuk selalu menarik. Tidak ada kewajiban untuk terus terlihat bahagia.
Mereka hanya menjadi dua orang yang sama-sama lelah menghadapi hidup, lalu bertemu kembali di tengah malam melalui percakapan sederhana.
“Aku tadi ketiduran di perpustakaan.” ucap Nara.
Pesan dari Aksa muncul lagi. Nara langsung tertawa kecil sendiri.
“Pantes lama balesnya.”
“Capek.”
Perempuan itu membaca satu kata itu cukup lama. Karena meskipun Aksa jarang banyak bicara, Nara tahu cowok itu sebenarnya sering menyimpan rasa lelahnya sendirian. Dan itu yang kadang membuat hatinya terasa sakit.
Aksa selalu terlihat tenang di luar. Selalu terlihat bisa menghadapi semuanya dengan biasa saja. Padahal diam-diam, cowok itu juga sering kehabisan tenaga.
“Aku juga capek.”
Nara akhirnya mengetik pelan.
Beberapa detik kemudian, telepon masuk dari Aksa tiba-tiba muncul di layar. Perempuan itu sedikit terkejut sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Kenapa belum tidur?” suara Aksa terdengar pelan.
Nara diam sebentar sambil menatap hujan di luar jendela.
“Pikiran aku lagi rame banget.” ucapnya.
“Overthinking lagi?”tanya Aksa