CHAPTER 11
"Kadang, yang paling menguji sebuah hubungan bukanlah perpisahan. Melainkan kesibukan yang perlahan membuat dua orang lupa bagaimana caranya saling menyempatkan."
Bulan itu, kampus Nara terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Musim campus visit akhirnya dimulai.
Beberapa sekolah dari berbagai daerah mulai berdatangan hampir setiap minggu untuk melihat suasana kampus, mengenal jurusan, dan mencari gambaran tentang kehidupan perkuliahan. Spanduk besar tentang penerimaan mahasiswa baru mulai terpasang di beberapa sudut gedung. Panitia campus visit terlihat sibuk mondar-mandir sejak pagi dan halaman utama kampus hampir tidak pernah benar-benar sepi.
Di tengah suasana itu, Nara justru menjadi salah satu mahasiswi yang paling sering terlihat sibuk. Awalnya, perempuan itu tidak pernah benar-benar berniat ikut kegiatan campus visit. Namun salah satu temannya terus memaksa Nara untuk mencoba mendaftar menjadi bagian dari panitia.
Katanya,
kegiatan seperti itu bisa membantu menambah relasi, melatih public speaking, dan membuat kehidupan kuliah tidak terasa terlalu monoton. Nara sempat menolak beberapa kali. Karena jujur saja, dirinya bukan tipe orang yang terlalu suka menjadi pusat perhatian. Ia lebih nyaman berada di lingkungan kecil, berbicara seperlunya, lalu pulang tanpa harus terlalu dikenal banyak orang. Namun entah kenapa, hari itu ia akhirnya mencoba mendaftar dan tanpa disangka, dirinya justru lolos menjadi bagian dari Campus Visit kampusnya.
Pagi itu,
Nara sudah berada di kampus sejak pukul tujuh pagi. Udara masih terasa dingin setelah hujan semalaman, sementara langit terlihat cerah seperti biasanya. Perempuan itu berjalan cepat menuju aula utama sambil membawa beberapa map dan name tag peserta.
Hari itu ada tiga sekolah yang datang sekaligus. Dua SMA dan satu SMK. Kemudian jumlah pesertanya jauh lebih banyak dibanding minggu sebelumnya.
“Nara, nanti kamu bagian fakultas ekonomi sama perpustakaan ya.” ucap kakak tingkatnya.
Salah satu kakak tingkat menghampirinya sambil menyerahkan rundown kegiatan.
“Oke kak.” ucap Nara
“Anak-anaknya lumayan aktif hari ini.” jawab kakak tingkatnya.
Nara hanya tertawa kecil sambil mengangguk. Padahal dalam hati, dirinya sedikit gugup. Karena meskipun sudah beberapa kali ikut campus visit, ia masih belum terbiasa berbicara di depan banyak orang.
Sekitar pukul sembilan pagi, rombongan siswa mulai memenuhi aula kampus. Suasana langsung berubah ramai. Suara langkah kaki, obrolan siswa, dan bunyi microphone bercampur menjadi satu memenuhi ruangan besar tersebut.
Beberapa siswa terlihat sangat antusias mengambil foto. Sebagian lainnya sibuk bertanya tentang jurusan favorit dan di tengah keramaian itu, Nara berdiri sambil memegang microphone kecil dengan napas yang sedikit tidak tenang.
“Selamat datang di kampus kami adik-adik sekaliann…. ”
Suara perempuan itu dengan heboh.
Namun semakin lama, ia mulai lebih santai menjelaskan satu per satu tentang kehidupan perkuliahan. Tentang gedung fakultas, sistem SKS, organisasi kampus, dan bagaimana kehidupan mahasiswa ternyata tidak sesantai yang sering dibayangkan anak SMA.
Beberapa siswa tertawa ketika Nara bercanda tentang tugas kuliah yang hampir tidak pernah selesai. Dan tanpa sadar, suasana menjadi jauh lebih cair.
“Kalau anak akuntansi tidurnya jam berapa kak?” tanya salah satu siswa sambil tertawa.
Nara langsung menghela napas panjang dramatis.
“Kalau lagi banyak tugas? Kadang gak tidur.”
Sontak beberapa siswa langsung tertawa ramai.
“Serem banget kak.” jawabnya.
“Makanya dipikirin dulu sebelum masuk akuntansi wkwk” ucap Nara sambil tersenyum.
Suasana campus visit perlahan berubah menjadi lebih santai. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara merasa dirinya benar-benar menikmati sesuatu tanpa terlalu banyak overthinking.
Mereka kemudian berjalan menuju gedung fakultas ekonomi. Di sepanjang jalan, Nara terus menjelaskan berbagai ruangan yang biasa digunakan mahasiswa.
“Yang ini ruang seminar.”
“Kalau yang itu biasanya buat sidang.”