Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #12

Orang Lama yang Belum Benar-benar Pergi

CHAPTER 12

"Tidak semua yang kembali datang untuk memulai lagi. Ada yang hadir hanya untuk menguji, apakah hati benar-benar sudah selesai atau hanya belajar terlihat baik-baik saja."

Malam itu,

hujan turun lebih deras dibanding biasanya.

Suara air memukul atap rumah berkali-kali, sementara angin dingin masuk perlahan dari celah jendela kamar yang belum sempat ditutup sempurna.

Nara masih duduk di depan meja belajarnya sejak satu jam lalu. Laptopnya menyala. File presentasi perpajakan terbuka di layar. Namun sedari tadi, tidak ada satu pun materi yang benar-benar masuk ke kepalanya. Pikirannya terlalu ramai. Tubuhnya memang berada di kamar, tetapi isi kepalanya berjalan ke mana-mana. Tentang tugas, campus visit, dan kehidupan kuliah yang semakin melelahkan.

Tanpa ia sadari, tentang seseorang dari masa lalu yang perlahan kembali muncul di hidupnya. Ponselnya bergetar pelan di atas meja. Satu notifikasi Instagram muncul di layar. Nama itu lagi. 

Raka.

Nara langsung diam beberapa detik. Tatapannya tertahan cukup lama pada layar ponsel yang masih menyala. Sudah hampir seminggu terakhir, cowok itu kembali muncul secara perlahan di kehidupannya.

Awalnya hanya membalas story. Lalu mulai mengirim lagu. Kemudian bertanya tentang kabarnya. Tidak ada pembicaraan serius. Tidak ada ajakan balikan. Tidak ada kata-kata romantis seperti dulu. Namun justru karena semuanya terasa biasa saja, Nara menjadi semakin sulit menghindarinya. Karena percakapan kecil seperti itu terasa terlalu familiar, terlalu nyaman, dan terlalu mengingatkan dirinya pada seseorang yang pernah tinggal sangat lama di hidupnya.

Nara akhirnya membuka pesan tersebut perlahan.

“Masih sering hujan ya di kota kamu?”

Perempuan itu menghela napas kecil.

Pertanyaan sederhana seperti itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun entah kenapa, dadanya terasa sesak ketika membacanya. Karena dulu, Raka adalah orang yang paling sering menemaninya berbicara tentang hujan, jalanan basah sepulang sekolah, malam-malam panjang ketika mereka sama-sama belum ingin tidur, dan bagaimana Nara selalu menyukai suasana dingin setelah hujan turun.

Kenangan-kenangan kecil itu ternyata belum benar-benar hilang.

Di sisi lain, Aksa masih berada di perpustakaan kampusnya. Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Beberapa mahasiswa sudah mulai pulang, sementara suasana perpustakaan perlahan menjadi lebih sunyi dibanding sebelumnya. Cowok itu masih duduk sendiri di pojok ruangan sambil membuka laptop dan beberapa buku ekonomi yang memenuhi mejanya.

Besok ia harus menghadapi UTS.

Seperti biasanya, Aksa memilih menghabiskan malamnya untuk belajar sampai larut. Namun di tengah fokusnya membaca materi, pikirannya beberapa kali kembali menuju satu orang yang sama.

Nara.

Beberapa hari terakhir,

Aksa mulai merasakan perubahan kecil dari perempuan itu. Bukan perubahan besar. Hanya hal-hal sederhana yang biasanya tidak terlalu terlihat oleh orang lain. Balasan chat yang sedikit lebih lama. Nada suara yang terkadang terdengar seperti sedang memikirkan sesuatu dan tatapan kosong Nara ketika mereka sedang video call beberapa malam lalu.

Orang lain mungkin tidak akan menyadarinya. Namun Aksa terlalu terbiasa memperhatikan hal kecil pada diri perempuan tersebut. Dan justru karena itu, ia mulai merasa takut.

Ponselnya akhirnya ia ambil perlahan. Chat terakhir mereka masih terbuka sejak sore tadi.

“Jangan lupa makan.”

Lihat selengkapnya