CHAPTER 13
"Yang paling menyakitkan bukan ketika hati masih mengingat masa lalu, melainkan ketika hati mulai mencintai seseorang yang baru, sementara luka lama belum benar-benar sembuh."
Hari-hari setelah malam itu terasa sedikit berbeda. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada perubahan yang terlalu jelas di antara Aksa dan Nara. Namun justru karena semuanya terlihat biasa saja,
perubahan kecil itu terasa semakin nyata.
Percakapan mereka mulai sedikit lebih hati-hati. Tawa mereka tidak lagi selama sebelumnya. Kemudian, di sela obrolan sederhana setiap malam, selalu ada jeda-jeda sunyi yang perlahan tumbuh tanpa mereka sadari.
Pagi itu,
Nara sedang duduk sendiri di kantin kampus sambil membuka laptopnya. Suasana kampus terlihat ramai seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang sambil membawa buku. Suara obrolan terdengar dari berbagai arah. Kemudian, langit mendung menggantung di atas gedung kampus seolah hujan bisa turun kapan saja. Namun di tengah keramaian itu, pikiran Nara terasa sangat jauh. Matanya memang menatap layar laptop, tetapi isi kepalanya terus dipenuhi hal-hal yang beberapa hari terakhir sulit ia abaikan. Tentang Aksa dan tentang Raka.
. . .
Ponselnya bergetar pelan.
Notifikasi pesan dari Raka kembali muncul.
“Udah makan belum?”
Pertanyaan sederhana. Tetapi justru hal sederhana seperti itu yang membuat hati Nara semakin kacau. Karena dulu, pertanyaan seperti itu hampir selalu menjadi bagian dari harinya. Bertahun-tahun dan manusia memang aneh. Kadang kita bisa terbiasa hidup tanpa seseorang selama berbulan-bulan, tetapi satu perhatian kecil darinya tetap mampu membuat hati terasa tidak tenang.
Nara menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya mengunci layar ponselnya lagi tanpa membalas.
Perempuan itu mulai sadar satu hal:
dirinya sedang berada di posisi yang berbahaya. Bukan karena ia ingin kembali pada masa lalunya. Tetapi karena sebagian hatinya ternyata belum benar-benar selesai di sana.
“Oy Nar!”
Suara salah satu temannya membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya.
“Kok bengong?” tanya teman kampus nya.
Nara langsung tersenyum kecil.
“Capek aja.” ucapnya.
Temannya duduk di hadapan Nara sambil membuka botol minuman dingin.
“Camvis minggu depan jadi lagi gak?” tanya temannya.
“Iya kayaknya.” jawab Nara dengan penuh keraguan.
“Buset hidup lo sibuk banget sekarang.” ucap temannya.
Nara hanya tertawa kecil. Padahal sebenarnya, yang membuat dirinya lelah akhir-akhir ini bukan hanya kesibukan kampus. Tetapi isi kepalanya sendiri.
Sejak bergabung menjadi bagian dari campus visit, kehidupan Nara memang perlahan berubah. Ia mulai mengenal lebih banyak orang. Mulai sering diajak berkumpul bersama panitia lain. Mulai menjadi seseorang yang lebih terbuka dibanding sebelumnya. Namun semakin ramai kehidupannya, semakin sering pula ia merasa kosong ketika sendirian. Karena di balik semua senyum dan keramaian itu, ada bagian dalam dirinya yang masih belum benar-benar tenang.
Malam harinya, Aksa kembali menghubunginya seperti biasa. Namun kali ini, suasana percakapan mereka terasa lebih lambat.
“Capek?” tanya Aksa