CHAPTER 14
"Barangkali rasa takut terbesar dalam mencintai bukanlah ditinggalkan, melainkan menyadari bahwa hati orang yang kita sayangi masih menyimpan ruang yang tidak pernah kita tempati."
Langit kota terlihat gelap sejak sore. Awan mendung menggantung rendah di atas jalanan, sementara angin dingin mulai terasa bahkan sebelum hujan turun.
Di dalam perpustakaan kampus, Aksa masih duduk sendirian di pojok ruangan sambil menatap laptop yang sejak tadi terbuka di hadapannya.
Materi ekonomi makro memenuhi layar. Beberapa file tugas berserakan di desktop. Kemudian, secangkir kopi dingin di samping laptopnya bahkan sudah tidak disentuh lagi sejak satu jam lalu. Namun sejak tadi, tidak ada satu pun materi yang benar-benar masuk ke kepalanya. Pikirannya terlalu penuh dan semuanya kembali menuju satu orang yang sama.
Nara.
Beberapa hari terakhir, cowok itu mulai merasa ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya sendiri. Ia menjadi lebih sering overthinking, lebih sering menunggu balasan chat terlalu lama dan lebih sering diam ketika sebenarnya isi kepalanya sangat berisik.
Aksa membenci perasaan itu. Karena selama ini, ia selalu menjadi orang yang terlihat paling tenang. Orang yang jarang menunjukkan rasa cemburu. Jarang marah dan lebih sering memilih memahami dibanding menuntut. Namun ternyata, setenang apa pun seseorang, tetap ada titik di mana rasa takut mulai tumbuh perlahan tanpa bisa dikendalikan.
Ponselnya menyala pelan. Notifikasi dari grup kelas muncul silih berganti. Ada yang membahas tugas presentasi. Ada yang mengeluh soal dosen. Ada juga yang mengirim meme random untuk mengurangi stres menjelang UTS. Namun perhatian Aksa justru tertahan pada satu notifikasi lain.
Instagram story Nara.
Cowok itu membukanya perlahan. Di layar, terlihat foto suasana kampus sore hari.
Langit mendung. Gedung fakultas ekonomi dan caption sederhana di bagian bawah foto.
“Hari panjang.”
Aksa menatap story itu cukup lama. Lalu tanpa sadar, cowok tersebut membuka daftar viewers story tersebut. Kemudian di sana, nama itu kembali muncul.
Raka.
Dada Aksa langsung terasa sesak kecil. Padahal sebenarnya tidak ada yang salah. Melihat story seseorang adalah hal biasa. Namun entah kenapa, nama itu selalu berhasil membuat pikirannya menjadi kacau. Karena semakin ia mencoba terlihat tenang, semakin besar rasa takut yang diam-diam tumbuh di dalam dirinya.
Cowok itu akhirnya mematikan layar ponselnya kasar lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Perpustakaan mulai semakin sepi. Beberapa mahasiswa sudah pulang sejak tadi, meninggalkan ruangan yang perlahan dipenuhi suara pendingin ruangan dan ketukan keyboard dari beberapa orang yang masih bertahan belajar. Namun di tengah suasana tenang itu, kepala Aksa justru terasa semakin ramai. Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Apakah dirinya benar-benar cukup untuk Nara?" Ucap Aksa ke dirinya sendiri.
"Apakah perhatian kecil yang ia berikan selama ini mampu membuat perempuan itu melupakan seseorang yang pernah menemaninya bertahun-tahun?"
Kemudian, pertanyaan paling menyakitkan dari semuanya yaitu:
"Apakah Nara benar-benar memilih dirinya?" atau "Hanya sedang mencari tempat nyaman untuk mengisi kekosongan?"
“Aksa.”
Suara seseorang membuat Aksa tersadar dari lamunannya.
Bang Dimas berjalan mendekat sambil membawa beberapa buku dan tas ransel hitam di pundaknya.
“Belum pulang lo?” tanya Bang Dimas.
“Belum bang.” jawab Aksa.
“Belajar apa bengong?” tanya Bang Dimas lagi.
Aksa tertawa kecil samar.
“Dua-duanya wkwk.”
Bang Dimas duduk di sampingnya sambil membuka laptop.
“Masalah cewek?” ucap Bang Dimas.
Aksa langsung diam beberapa detik dan diamnya itu justru menjadi jawaban paling jelas. Tidak lama kemudian Bang Dimas menghela napas kecil sambil tersenyum tipis.
“Masih soal Nara?” tanya Bang Dimas.
“Iya.” jawab singkat Aksa.