Senja yang Tak Benar-Benar Pergi

Arzam Perdana Lubis
Chapter #15

Jarak dan Suara-suara Asing

CHAPTER 15

"Tidak semua jarak tercipta karena hilangnya rasa. Ada yang lahir karena seseorang sedang terlalu lelah untuk hadir, bahkan bagi dirinya sendiri."

Malam itu berjalan pelan seperti hari-hari sebelumnya yang terasa terlalu panjang untuk dijalani. Suasana di kamar Nara masih sama seperti beberapa minggu terakhir yang lumayan berantakan, penuh catatan kuliah, dan dipenuhi tugas yang belum benar-benar selesai. Laptopnya masih menyala di atas meja belajar dengan beberapa tab presentasi yang terbuka bersamaan. Di sampingnya terdapat buku perpajakan yang penuh stabilo warna-warni, sticky note kecil berisi deadline tugas, serta botol minum yang bahkan belum disentuh sejak sore tadi.

Jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Namun kepala perempuan itu masih terasa seperti siang hari yang ramai. Belakangan ini, hidup Nara benar-benar dipenuhi terlalu banyak suara.

Suara dosen, teman kelompok, panitia campus visit, dan notifikasi grup kelas yang tidak pernah berhenti. Dan yang paling melelahkannya yaitu suara isi kepalanya sendiri.

. . .

Semester dua ternyata jauh lebih berat dibanding yang ia bayangkan dulu. Semua terasa datang bersamaan tanpa memberi jeda untuk bernapas. Tugas kelompok mulai semakin sering. Quiz mendadak datang hampir setiap minggu. Presentasi membuatnya harus terus berbicara dan mempersiapkan banyak hal. Belum lagi kegiatan campus visit yang menyita tenaga hampir setiap hari.

Pagi kuliah. Siang rapat. Sore campus visit. Malam ngerjain tugas. Lalu dini hari dihabiskan untuk overthinking tentang semuanya dan siklus itu terus berulang sampai Nara mulai lupa rasanya benar-benar tenang.

Perempuan itu menatap layar laptop kosong cukup lama. File tugasnya belum selesai. Namun pikirannya terlalu penuh untuk fokus membaca satu paragraf pun. Matanya terasa panas karena lelah, sedangkan kepalanya seperti dipenuhi banyak hal yang saling berbicara dalam waktu bersamaan.

Kadang Nara ingin berhenti sebentar. Ingin tidur tanpa memikirkan deadline. Ingin menghilang dari keramaian kampus. Ingin tidak dikenal banyak orang dan ingin menjadi seseorang yang tidak harus terlihat kuat setiap waktu. Namun hidup tidak pernah benar-benar memberi kesempatan itu.

Ponselnya kembali bergetar di atas meja. Notifikasi dari grup campus visit masuk bertubi-tubi. Ada yang membahas rundown kegiatan minggu depan. Ada yang mengirim dokumentasi campus tour tadi siang. Ada juga yang bercanda tentang siswa SMA yang terlalu aktif mencari perhatian ke panitia perempuan. Biasanya Nara ikut membalas. Namun malam itu, ia hanya membaca sekilas lalu mematikan layar ponselnya lagi. Tenaganya benar-benar habis. Campus visit yang awalnya terasa menyenangkan perlahan mulai menjadi salah satu sumber lelah terbesar dalam hidupnya.

Nara memang senang berbicara dengan banyak orang. Ia senang menjelaskan tentang kampus. Senang membantu siswa SMA dan SMK mengenal dunia perkuliahan. Tetapi semakin lama, semakin banyak pula orang yang mulai masuk ke kehidupannya.

Beberapa siswa mulai sering menghubungi Instagram-nya setelah kegiatan selesai. Ada yang benar-benar bertanya soal jurusan. Ada yang meminta saran masuk kuliah. Ada juga yang jelas-jelas hanya ingin dekat dengannya. Belum lagi beberapa mahasiswa di kampus yang mulai mengenalnya karena kegiatan tersebut. Hidupnya perlahan menjadi jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Kemudian tanpa ia sadari, keramaian itu mulai menguras energi emosionalnya sedikit demi sedikit.

Di sisi lain, Aksa sedang duduk sendiri di kamar rumahnya sambil membuka materi Akuntansi dan materi dari masing-masing mata kuliah yang belum selesai dipelajari. Lampu kamar masih menyala terang. Suara kendaraan dari jalan raya samar terdengar dari luar jendela. Sedangkan grup kelasnya sendiri juga tidak kalah berisik membahas banyak tugas kuliah yang seisi kelas belum pada paham materi yang diberikan oleh dosen nya. Namun sejak tadi, fokus Aksa tidak benar-benar ada di materi kuliah. Pikirannya terus tertahan pada satu hal: Nara.

Belakangan ini pun cowok itu mulai merasa bahwa dirinya semakin sulit menjangkau perempuan tersebut. Bukan karena Nara berubah menjadi dingin. Tetapi karena perempuan itu terlihat terlalu lelah untuk hadir sepenuhnya bagi siapa pun. Kadang chat mereka berhenti di tengah percakapan. Kadang Nara menghilang cukup lama tanpa sadar bahwa ada seseorang yang sedang menunggu kabarnya. Kadang ketika mereka menelepon malam, suara perempuan itu terdengar kosong meskipun sedang bercerita. Dan semakin lama, Aksa mulai sadar bahwa yang sedang ia lawan bukan orang lain. Melainkan kehidupan Nara sendiri yang semakin penuh.

Lihat selengkapnya