CHAPTER 16
"Pada akhirnya, aku mengerti bahwa tidak semua orang yang kita perjuangkan akan memilih tinggal. Sebab hati tidak selalu menetap pada yang paling tulus, melainkan sering kembali kepada tempat yang belum pernah benar-benar ia tinggalkan."
Malam itu berjalan lambat seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa semuanya akan benar-benar berakhir. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata perpisahan yang diucapkan secara langsung. Hanya malam biasa, dengan Aksa yang masih duduk sendiri di kamar rumah sambil menatap layar laptopnya sejak tadi sore.
Lampu kamar menyala terang. Meja belajarnya penuh oleh buku kuliah, catatan revisi, headset, dan beberapa bungkus kopi sachet yang mulai menumpuk di sudut meja. Dari luar jendela terdengar suara kendaraan yang masih berlalu-lalang di jalan raya dekat rumahnya, bercampur dengan suara mahasiswa lain yang tertawa kecil di lorong. Namun malam itu, fokus Aksa bukan tentang kuliah, tugas, UTS, dan tentang kehidupan kampusnya. Fokusnya malam itu hanya satu yaitu Nara.
Sejak beberapa minggu terakhir, cowok itu diam-diam sedang menulis sesuatu.
Sebuah novel.
Bukan novel besar untuk diterbitkan. Bukan tulisan sempurna yang penuh kata-kata indah seperti penulis profesional. Hanya kumpulan cerita sederhana tentang seseorang yang berhasil membuat hidupnya berubah perlahan. Tentang perempuan yang pernah datang ketika hidupnya sedang berantakan. Tentang seseorang yang membuat malam-malam panjang terasa lebih tenang hanya lewat suara telepon. Tentang perempuan yang sering merasa sendirian meskipun hidupnya ramai oleh banyak orang. Dan perempuan itu adalah Nara.
Aksa menulis semuanya diam-diam. Tentang pertemuan pertama mereka, obrolan kecil di Lawson waktu itu, bagaimana Nara belajar saham dengan caranya sendiri sambil ditemani dirinya, jalan kaki menuju lobby kampus, telepon malam yang kadang berlangsung sampai dini hari, dan rasa takut kehilangan yang perlahan tumbuh ketika hubungan mereka mulai dipenuhi kesibukan dan jarak.
Semua ia tulis perlahan. Karena bagi Aksa, Nara bukan sekadar seseorang yang datang sebentar lalu pergi begitu saja. Perempuan itu pernah menjadi tempat pulang paling tenang di tengah hidupnya yang juga sama-sama lelah.
Malam itu,
Aksa masih mengetik beberapa kalimat terakhir di laptopnya. Jarinya bergerak pelan di atas keyboard sambil sesekali berhenti karena terlalu lama memikirkan pilihan kata.
Di layar laptop, tertulis sebuah paragraf:
“Kadang seseorang datang bukan untuk menetap selamanya, tetapi hanya untuk mengajarkan bahwa hati manusia bisa merasa nyaman sedalam itu kepada orang lain.”
Aksa membaca ulang kalimat tersebut pelan. Lalu tersenyum kecil sendiri. Entah kenapa, belakangan ini isi tulisannya mulai terasa lebih sedih dibanding biasanya. Seolah hatinya diam-diam sudah mengetahui sesuatu lebih dulu dibanding pikirannya sendiri.
Sebelum kembali melanjutkan tulisannya, Aksa membuka WhatsApp sebentar. Sore tadi ia sempat mengirim pesan ke Nara.
“Jangan lupa makan.”
Lalu beberapa jam kemudian ia kembali mengirim chat lain.