Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #1

Bila Ayah Tersenyum

Memori manusia sering kali rapuh. Kita bisa dengan mudah melupakan utang, melarikan diri dari wajah masa lalu, atau menguapkan janji manis seperti politisi saat kampanye. Namun, semesta menolak menghapus satu ingatan usang dari kepalaku: sebuah raket bekas, seikat sapu lidi, segulung nilon pancingan, dan ayah—seorang pria yang memperlakukan hukum fisika seolah itu hanyalah saran belaka.

Hari itu, pelajaran pertama dalam hidupku dimulai. Dan gurunya adalah ayahku sendiri.

Saat itu usiaku baru enam tahun. Selepas Asar, hawa sedang gerah-gerahnya ketika aku duduk di samping ayah di teras rumah. Aku menyodorkan sebuah raket tua dengan senar yang berantakan, korban serangan tikus-tikus rumah yang tampaknya sedang butuh olahraga.

Tanpa sepatah kata pun—karena bagi kami, banyak bicara adalah simbol kelemahan—ayah langsung mengerti. Ia bangkit bagai pahlawan dalam film laga, melangkah ke dapur, lalu kembali membawa senjata pamungkasnya: seikat sapu lidi, bekas membersihkan kandang ayam, dan segulung tali pancing dari nilon dengan merk “Lahar Dingin”, sungguh mengharukan.

Dengan tangan-tangannya yang kasar, ayah mulai menjalin tali pancing itu ke bingkai raket. Untuk mengunci ketegangan senar, ia mematahkan lidi lalu menyumbat lubang kecil pada bingkai raket satu demi satu.

Aku memandangnya dengan kekaguman yang nyaris religius. Di mata anak kecilku, ayah adalah reinkarnasi dari tokoh yang sering kutonton di televisi hitam putih milik tetangga, Mac Gyver versi lokal yang bisa memperbaiki apa saja tanpa modal. Bagiku, tidak ada yang mustahil di tangan ayah. Radio mati bisa menyala lagi setelah digebuk dua kali. Lampu petromak padam bisa hidup kembali. Jaring yang robek bisa mendadak utuh. Maka, membetulkan raket tentu hanyalah masalah sepele bagi pahlawan domestikku ini.

Status resminya adalah seorang petani. Namun, ketika malam tiba dan bulan merayap naik, ia bermutasi menjadi nelayan. Di mataku, ia adalah manusia multi-talenta tanpa ijazah resmi. Dialah yang mengajariku taktik berburu tingkat tinggi: membuat jerat untuk menangkap burung belibis yang depresi mencari kubangan lumpur di musim kemarau.

Ia juga seorang pemain sepak bola yang ditakuti di kampung—terutama oleh rumput lapangan—sekaligus disegani sebagai grandmaster catur di pos ronda.

Setiap kali ayah membuka papan catur kayu yang kotak-kotaknya mulai memudar, peradaban di kampung kami mendadak berhenti. Orang-orang akan berkerumun, menahan napas menyaksikan tipuan, intrik, dan manipulasi yang keluar dari kepalanya. Jika dunia memiliki Sun Tzu dengan Seni Berperangnya-nya, kampung kami memiliki ayahku dengan Seni Mengulur Waktu agar musuh emosi. Kalau pun suatu hari ia kalah, statusnya sebagai ahli catur buatku tidak pernah luntur. Setidaknya, ia adalah ahli catur bersama orang yang baru saja mengalahkannya.

Aku sering berpikir, ayah tidak pernah benar-benar mengejar kemenangan. Ia hanya menikmati meditasi lewat proses berpikir. Bahkan ketika lawannya hampir terkena stroke karena terlalu lama menunggu ayah melangkah, ayah tetap duduk tenang sambil tersenyum misterius. Seolah ia ingin berbisik, “Kawan, hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan tergesa-gesa.”

Kami terus duduk berdampingan dalam diam. Entah apa yang sebenarnya sedang dipikirkan ayah saat itu. Mungkin di dalam hatinya, ia sendiri sedang merutuki keputusannya yang sok tahu, tersesat di dalam labirin nilon yang bersilangan tanpa ujung.

Namun, menyerah adalah pantangan bagi pria dengan ego setinggi langit di depan anaknya. Butiran keringat sebesar biji jagung mulai muncul dan menetes di dahinya, sebuah perjuangan dramatis melawan hukum kelenturan benda padat. Tangannya tetap bergerak cekatan agar tetap terlihat meyakinkan.

Lihat selengkapnya