Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #2

Power Rangers

Tahun 90-an.

Hari Minggu pagi, hanya orang-orang tertentu yang mampu melihat kami sekeluarga. Memerlukan sesuatu bernama listrik dan peralatan canggih bernama televisi di zaman itu. Hidupkanlah televisi, putarlah switch receiver antena parabola hingga Anda menemukan siaran televisi dari stasiun yang berlogo kepala burung dan dari matanya keluar sinar laser berwarna merah.

Minggu pagi, hidupkan televisi, maka rumah kami akan tersedot masuk ke dalamnya. Setiap kali lagu pembukanya berkumandang, dunia terasa berhenti sejenak. Teman-temanku mendadak berubah menjadi pahlawan super. Aku pun tak mau kalah. Bedanya, aku tidak perlu berpura-pura, karena sebenarnya, Power Rangers ada di dalam rumahku.

Rumah kami, layaknya rumah di kampung. Bentuknya kotak tak berseni, tiangnya tinggi dan berdiri di bibir sungai, atapnya dari susunan sirap.Tapi, tahukah kau, Kawan ? Rumah itu adalah markas Power Rangers.

Ayahku adalah Ranger Merah, pemimpin para ranger. Ia mencari nafkah, melindungi, dan membimbing kami menuju cahaya kebenaran dan melawan kebatilan.

Aku tidak pernah melihat ayahku memakai jubah yang megah. Topinya dari anyaman purun, senjatanya hanyalah cangkul dan jala ikan, serta sepasang tangan yang tak pernah menganggur.

Betapa hebat Ranger Merah itu, sehingga tiap kali bermain, anak-anak berebut menjadi Ranger Merah. Meskipun setelah dewasa aku menyadari, pahlawan memang tidak memakai kostum yang hebat. Mereka lebih sering memakai baju yang penuh dengan keringat.

Ibuku, Ranger Pink, pendamping setia Ranger Merah, ia manajer keuangan yang handal, analisis keuangannya begitu mumpuni, ia mampu mengatur neraca keuangan kami sekeluarga dengan penghasilan ayah yang pas-pasan hingga cukup untuk bertemu bulan berikutnya. Di tangan ibu, gaji kecil ayah setiap bulan, ditambah penghasilan menjual ikan tangkapan ayah, atau menjual sayur yang mereka tanam, cukuplah membuat kami merasa tenteram, terutama ketenteraman bagian pencernaan.

Sampai hari ini aku masih heran bagaimana ibu melakukannya. Angka-angka di tangannya memiliki sifat lentur. Penghasilan yang menurut orang lain hanya cukup untuk seminggu, di tangan ibu bisa bertahan sebulan. Andai saja para ahli ekonomi diberi kesempatan untuk belajar kepada ibuku, mereka akan menemukan cabang ilmu baru yang bernama manajemen ekonomi perdapuran tingkat dewa.

Sesungguhnya hidup kami kekurangan, tapi satu hal yang diajarkan ayah adalah agar kami selalu merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kami punya. Semakin mencoba memenuhi keinginan dalam hidup, sama seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Ayah dan ibuku adalah pasangan Ranger yang sempurna, tak pernah kulihat mereka bertengkar, tak ada piring terbang atau penggorengan yang melayang, mereka serasi dan saling menyayangi, atau mereka begitu pandai menutupi semuanya, aku tak tahu.

Seumur hidup, hanya dua kali aku melihat ibu menitikkan air mata, dia tidak menangis, hanya saja air matanya menetes tak sengaja. Kejadian pertama, aku yang lelah bermain seharian berlari ke dapur, minum segelas air, kulihat ibuku sedang menanak nasi di atas tungku, matanya berkaca-kaca, lalu meneteslah air bening itu, hatiku bertanya-tanya, tapi sebagai anak kecil berusia 6 tahun, naluriku belum mampu membaca apa yang terjadi, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa ibu sedang bersedih. Anak kecil memang sering tidak mengerti alasan orang dewasa menangis. Yang ia tahu hanya satu hal, jika ibunya bersedih, maka rumah pun terasa ikut bersedih. Bahkan asap dari tungku pun seolah mengepul lebih pelan daripada biasanya.

Lihat selengkapnya