Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #3

Raket Idaman

Di luar, pekat malam belum sepenuhnya luruh. Pagi masih berupa bayangan dingin ketika ibu mengguncang bahuku pelan. Kantuk yang menggelayuti mataku menguap seketika begitu sebuah bisikan hangat mampir ke telinga: Ayah akan mengajakku ke pasar.

Pasar. Bagi anak kecil seusiaku, kata itu adalah gambaran dari sebuah pesta besar. Sebuah zona ajaib yang menjanjikan kegembiraan tanpa batas. Di sanalah tempat balon warna-warni menari ditiup angin, mainan-mainan plastik dipajang menggoda, dan aroma ikan asin beradu dengan wangi kue yang baru matang di atas loyang. Pasar adalah tempat di mana dunia terasa berkali-kali lipat lebih besar daripada kampung halamanku yang sepi. Di tengah keriuhan yang mempesona itu, aku selalu berhasil melupakan satu kenyataan: bahwa aku hanyalah anak dari sebuah keluarga yang hidup dalam kesederhanaan yang ketat.

Aku bergegas mandi. Kulitku merinding disengat air sumur yang dingin, namun semangatku tak luntur. Kukenakan baju terbaikku—pakaian bekas Lebaran tahun lalu yang warnanya sudah mulai memudar.

Saat aku keluar, Ayah sudah siap. Di bahunya yang kokoh, ia memanggul sebuah karung. Aku tak tahu apa isinya, dan aku tidak peduli. Ayah menggamit lenganku, menuntun langkah kecilku memecah kabut pagi menuju dermaga.

Untuk sampai ke pusat keramaian itu, kami harus menumpang perahu mesin menyeberangi sungai yang luas. Sepanjang perjalanan, senyum tak pernah lepas dari wajahku. Angin pagi yang basah meniup-niup pipiku, burung camar terbang rendah mencari ikan, dan ombak kecil beriak beraturan di sisi lambung perahu. Di kejauhan, Pulau Hanaut berdiri samar di tengah kepungan air. Sesekali Ayah menunjuk ke pulau itu, menggumamkan cerita-cerita masa lalu yang tak seluruhnya kupahami. Mataku justru lebih sibuk memandangi riak air yang terbelah oleh haluan perahu. Dalam hayalan masa kecilku yang liar, sungai ini begitu luas hingga menyerupai lautan, dan aku bersama Ayah adalah sepasang pelaut yang sedang berlayar menuju sebuah negeri yang penuh dengan keajaiban.

Cukup lama kami terombang-ambing sebelum akhirnya haluan perahu membentur kayu dermaga dengan pelan. Kami telah sampai.

Pasar menyambut kami dengan kepungan aroma ikan asin dan gairah hidup yang pekat. Orang-orang hilir mudik memanggul keranjang, kardus-kardus belanja, dan lengkingan terompet penjual es lilin saling bersahutan dengan teriakan para kuli serta tukang becak. Mataku bergerak lebih cepat daripada kakiku. Aku mengalami kebingungan yang menyenangkan; andai sepasang mataku bisa dipisahkan, mungkin mata kananku akan melompat ke arah barisan mainan, sementara yang kiri terpaku pada gerobak penjual es.

Ayah membimbingku menyusuri tepi jalan raya yang padat, terus melangkah ke arah selatan hingga berhenti di depan sebuah kios sembako.

"Tunggu di sini sebentar," bisik Ayah.

Ia menurunkan karung dari bahunya, lalu melangkah masuk. Dari sela-sela tumpukan barang, aku melihat penjaga kios membuka ikatan karung Ayah, memeriksa isinya dengan acuh tak acuh. Ternyata isinya setengah karung beras. Terjadi percakapan singkat yang suaranya diredam oleh bising jalanan. Tak lama, Ayah menerima beberapa lembar uang, melipatnya dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam saku baju. Aku hanya manggut-manggut kecil, mengira itu adalah rutinitas normal orang dewasa: membawa barang, menukarnya dengan uang, lalu pulang.

Lihat selengkapnya