Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #4

Aina Munaroh

Tuhan memiliki cara yang aneh untuk mempertemukan dua orang manusia. Kadang, Ia membiarkan mereka tumbuh, belajar, jatuh dan berdiri di dunia yang berbeda terlebih dahulu.

Hidup memang sering dimulai dari hal-hal yang tampaknya tidak saling berhubungan. Seperti dua sungai yang mengalir berjauhan, masing-masing memiliki hulu dan cerita sendiri, lalu entah bagaimana akhirnya mereka bertemu di laut yang sama.

Jauh di selatan kampungku, hiduplah seorang guru agama bernama Muharom bin Syawal. Tak usah kujelaskan perihal namanya, kalian tentu sudah bisa menerka dari bulan apa ia dilahirkan. Ustaz Muharom, begitu orang kampung biasa memanggilnya.

Sehari-hari ia mengajar mengaji, lalu sepulang mengajar, ia akan berkebun seperti kebanyakan orang kampung yang hidupnya tidak pernah lepas dari parang dan cangkul. Di kampungku, menjadi guru agama bukan berarti hidup berkecukupan. Seusai mengajarkan ayat-ayat Tuhan, beliau tetap harus berkawan dengan tanah, rumput dan lumpur. Barangkali memang begitulah cara Tuhan mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaannya, melainkan ketulusan hatinya.

Ustaz Muharom sudah lima tahun berumah tangga. Istrinya, Halimah, adalah perempuan yang cantik dan salehah. Ia pandai mengaji, berbakti kepada suami dan orang tua, juga kepada bangsa dan negara—hal yang dibuktikan dengan sederet piagam juara lomba memarut kelapa setiap perayaan Agustusan. Ustaz Muharom dan Halimah adalah gambaran keluarga yang tenang, ibarat sebatang lilin yang redup tetapi tetap memberikan cahaya. Mereka tidak senang bergunjing dan selalu menjauhi hal-hal yang tidak berguna. Setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka adalah kebaikan, hingga tak heran jika penduduk kampung begitu menyayangi mereka.

Lihat selengkapnya