Waktu berjalan seperti lintah kekenyangan. Perlahan, merayap, tak terasa namun pasti. Usiaku terus beranjak meniti tangga menuju masa remaja. Kita memang tidak bisa menipu waktu, malah kadang waktulah yang membuat kita lupa.
Kita hidup, lengah, dan lalai, lalu pada masanya nanti kita akan berkata seandainya waktu bisa terulang kembali. Ironis sekali, bagaimanapun kita bergaya dan mencoba tetap muda, ketika berperang dengan waktu, dengan malu-malu kita harus mengakui bahwa waktulah pemenangnya.
Semasa kecil, setahun terasa lama sekali. Menunggu lebaran seperti menunggu hujan di musim kemarau. Tetapi semakin dewasa, sang waktu berubah tabiatnya. Ia berlari tanpa permisi. Tahu-tahu, kita sudah berdiri di depan cermin sambil bertanya, “Sejak kapan rambutku mulai berubah warna?”
Begitulah perjalanan waktu. Tak terasa, aku sudah menyelesaikan Ujian Akhir SMP. Bila aku lulus, berarti aku akan melanjutkan ke SMA, selepas SMA aku akan kuliah, lalu bekerja, kemudian menikah dan punya anak. “Bukankah rencananya selalu begitu, Kawan?” Memikirkannya saja sudah membuat wajahku menjadi merah. Entah mengapa setiap membayangkan kata “menikah” pikiranku langsung berlari jauh. Anak kecil yang baru beranjak lulus SMP, memang sering terlalu percaya diri menyusun masa depan. Untung saja Tuhan tidak langsung mengabulkan semua khayalan.
Malam itu, selepas Magrib, ayah mengundangku menghadiri rapat terbatas yang hanya dihadiri oleh ayah, aku, dan ibu. Aku menduga rapat ini akan menentukan nasibku selanjutnya. Aku duduk serapi mungkin, seolah sedang menghadapi kepala sekolah yang marah karena kemarin malam sandalnya diam-diam kulempar ke atas atap. Aku juga sempat berusaha mengingat, apakah beberapa hari ini aku melakukan kesalahan yang belum diketahui oleh ayahku. Syukurlah, seingatku tidak ada. Kalaupun ada, semoga ayahku lupa.
Di tengah keheningan, dapur bergerontang berisik, nampaknya, Tong Po kucingku, dengan sengaja menendang panci, mungkin ia merasa frustasi karena tikus yang dikejarnya berhasil melarikan diri. Aku terkejut dalam hati; “Kurang ajar sekali, kucing itu mengacaukan suasana yang sakral ini.”
Tidak biasanya, ayah yang pendiam dan tidak banyak bicara, kini seakan punya mesin kalimat di dalam mulutnya. Mula-mula ayah menyampaikan pembukaan , mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, serta salawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW, para kerabat, dan sahabat, semoga kita mendapat syafaat beliau, luar biasa sekali pidato ayahku malam itu.