Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #6

Konstelasi Tiga Belas Bintang

Mendekati akhir bulan Agustus, aku menerima surat panggilan. Kawan, ini bukan panggilan sembarangan, ini adalah panggilan yang menggetarkan.

Surat itu ditulis oleh karibku di kampung, aku dipanggil memperkuat Tim Nasional kampungku dalam pertandingan sepak bola tujuh belasan, dan ini adalah pertandingan final.

Tahukah kamu, Kawan?Sepakbola di kampungku tidak hanya mengandalkan kemampuan menggiring bola lalu mencetak gol. Konon katanya, sepak bola pada zaman dahulu adalah ajang menampilkan keahlian individu, pertarungan para dukun, dan kemampuan bermain kuntau.

Jangan heran, jika sebelum pertandingan dimulai, kalian akan melihat orang asing dengan lagak mencurigakan, berjalan mondar-mandir mengelilingi tiang gawang. Itu adalah ritual pemasangan pagar gaib, agar gawang tetap perawan dan tidak kebobolan. Jangan pula heran bila melihat pemain penyerang yang lihai, yang tinggal berhadapan dengan penjaga gawang, tiba-tiba menjadi tidak becus menendang bola, itulah hasil praktik kemenyan dunia sepak bola di kampungku.

 Konon katanya, satu-satunya cara untuk memusnahkan pagar gaib di area gawang, adalah dengan mengencingi tiang gawang lawan. Barang siapa yang kebobolan terlebih dahulu, maka penasihat spiritual mereka harus bersiap menanggung malu. 

Jika pemain bola tidak pintar bermain kuntau, maka kalian akan menyaksikan dua orang yang sedang beradu lari, lalu sekonyong-konyong salah satunya terjerembab dan tertungging mencium tanah, kemudian pingsan. Selidik punya selidik, tangan lawannya baru saja menghantam bagian rahasia kebanggaan kaum lelaki tanpa diketahui oleh wasit.

Ketika beradu lari, pemain bola juga beradu keahlian kuntau, salah satu bentuk ilmu beladiri di kampungku. Jadi, Kawan, sepak bola bukan hanya soal olah raga. Sepak bola adalah pertarungan gengsi, ajang tebar pesona, ilmu kanuragan, klenik dan perdukunan, serta keberanian mengadu kekuatan tulang kering yang dibasahi dengan air rendaman batu petir.

Mendapat panggilan memperkuat tim nasional, meskipun ukuran kampung, adalah kebanggaan tersendiri buatku. Dahulu, ayahku juga pemain andalan. Posisinya di sayap kiri, karena dia pemain kidal. Konon, jika ayah berlari menggiring bola, meliuk-liuk mengecoh pemain lawan, tak ada yang bisa menghentikannya, tidak ada tindakan curang yang mencederainya, karena dia juga pemain kuntau berpengalaman.

Umpan lambungnya memanjakan, para penyerang tidak perlu mencari ruang kosong di area pertahanan lawan, karena bola umpan yang dilepaskan ayahku seperti memiliki mata, menuju teman yang berdiri bebas untuk selanjutnya mencetak gol.

Setelah mendapat ijin dari sekolah, aku berangkat pulang ke kampung halaman.

Angin tenggara berhembus, awan-awan menyingkir dan berkumpul di laut jawa kemudian memuntahkan hujan bercampur badai, laut bergelora. Tak ada nelayan yang berani melaut di musim tenggara, mereka baru ramai di laut pada musim tenggiri. Kesibukan mereka beralih ke pusat kampung, di lapangan sepak bola.

Lihat selengkapnya