Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #7

Resonansi

Wasit membunyikan peluit, pertanda bahwa pertandingan akan segera dimulai. Panitia segera menghalau anak-anak yang masih asyik berkejaran di dalam lapangan. Kami berbaris memasuki arena dengan tampang meyakinkan. Aku merasa keren sekali, dan aku yakin, gadis-gadis remaja di pinggir lapangan akan merasa sangat gemas, lalu meremas-remas tangan mereka sendiri dengan dengan mulut ternganga.

Kawan, pemain sepak bola itu gagah luar biasa, jantan, dan pemberani seperti para pejuang bangsa Troya. Di kampungku, Momen setelah bermain sepak bola, adalah saatnya menebar pesona. Jadi, jangan heran bila nanti kalian akan melihat ada pemain sepak bola yang petantang-petenteng berkeliling lapangan dengan baju disampirkan di pundak, tampak lelah dan basah kuyup padahal tubuhnya memang sengaja disirami dengan air minum. Ditambah suara sepatunya yang menggebrak-gebrak tanah, dia akan terlihat begitu tangguh, gadis mana yang tidak meliuk-liuk hatinya? Ibam adalah orang yang paling senang bergaya seperti itu.

Lagu-lagu perjuangan masih menggema, ditingkahi riuh rendah suara penonton yang memenuhi sekeliling lapangan. Kami kemudian dikumpulkan oleh wasit untuk mendengarkan briefing. Bermacam petuah bijak pun terlontar: mulai dari menjaga fair play, tidak boleh ada tindakan curang yang bertujuan mencederai lawan, jangan lupa salat, berbakti kepada orang tua, rajin mengaji, dan yang paling penting, harus bisa membedakan mana gawang sendiri dan mana gawang lawan.

Wasit mengundi dengan koin, lalu kami bersalaman mirip suasana hari Lebaran. Kami mendapat tempat di sebelah timur. Aku segera mengambil posisi sambil berdoa di dalam hati, sementara para penonton yang hanya dibatasi oleh parit mulai bersuit-suit memberi semangat.

Aku mengamati teman-temanku. Ibam dan Mahadi sedang melemaskan urat pinggang mereka. Di posisi belakang ada Kritang sebagai stopper, Grapai di sayap kiri, Uhus, kapten tim sedang bercakap-cakap dengan Grincing sang penjaga gawang. Kami adalah starting eleven terbaik.

Sesuai hasil undian, bola pertama dikuasai oleh tim lawan. Aku mengenali sebagian dari mereka. Penyerang kiri mereka adalah Johe, pemain sepak bola handal yang sudah malang melintang hingga ke tingkat provinsi. Dia juga mengenaliku. Sebentar lagi, kami berdua akan saling berhadapan.

Dari kejauhan, di pojok selatan lapangan, aku melihat ayah telah duduk di singgasananya, di atas urat pohon ketapi yang berbonggol-bonggol. Sesekali ia harus berdiri karena pandangannya terhalang oleh anak-anak yang berlarian di depannya. Aku yakin dia bangga melihatku, seakan sedang melihat dirinya sendiri puluhan tahun yang silam.

Wasit membunyikan peluit panjang, menandakan pertandingan babak pertama resmi dimulai. Riuh rendah teriakan penonton langsung menimpali; ada yang memberi semangat, ada pula yang mencela ketika melihat pemain yang bertindak tidak becus. Jika ada pemain yang terjatuh, gadis-gadis remaja akan menjerit cemas, dan suara itu seketika membuatku semakin bersemangat.

Serangan tim lawan datang bertubi-tubi hingga kami terdesak. Uhus sang kapten harus berteriak-teriak untuk mengarahkan pertahanan, sementara Grincing jatuh bangun berjibaku menghadang bola yang terus ditembakkan meluncur yang menuju gawangnya.

Pada satu momen, Johe berhasil menguasai bola. Dia melewati Grapai dengan mudah, lalu berlari menggiring bola lurus ke arahku. Aku tidak tinggal diam. Tidak akan kubiarkan dia melewatiku begitu saja. Bukankah kami berdua sama-sama malang melintang hingga ke ibu kota provinsi? Dia bermain sepak bola, dan aku sekolah disana. Tidak ada bedanya. Sama-sama ibu kota provinsi.

Johe merangsek maju.

Lihat selengkapnya