Tidak dipungkiri, aku terlihat gagah sekali dengan pakaian putih ini. Aku melangkah masuk ke dalam rumah, mencium tangan ibuku sambil berpamitan, sementara ibu hanya tersenyum hangat menatapku. Kulirik arloji di pergelangan tanganku; sudah hampir jam dua belas siang. Itulah jadwal keberangkatanku.
Aku bergegas menaiki tangga pesawat, lalu menyapa kru kabin yang langsung mengangguk hormat kepadaku.
"Siap berangkat?" tanyaku pada mereka.
"Siap, Kapten!" sahut mereka serempak.
Aku memasuki ruang kokpit. Kopilotku, Kapten Dedi, menyambutku dengan senyuman.
"Cuaca cerah, Kapten," katanya.
Aku mengangguk mantap. Lima belas menit kemudian, kami pun sudah mengudara. Landasan pacu terlihat semakin mengecil di bawah sana. Aku sengaja menurunkan ketinggian; kini pesawatku terbang rendah, hanya lebih tinggi sedikit dari atap-atap rumah penduduk.
Aku melirik jadwal terbang di sampingku. Pertama, aku harus menjemput ayah di kantornya, lalu setelah itu menjemput kakak dan abangku. Pesawat segera kuarahkan tiga belas derajat ke kanan. Aku mendarat tepat di depan kantor ayah yang rupanya sudah menunggu. Katanya, ada beberapa teman yang ingin menumpang pulang. Aku mengangguk setuju.
Setelah semua penumpang naik, pesawatku kembali melesat ke udara. Kutengok ayah di kabin penumpang; ia tampak tersenyum lebar sembari dicandai oleh teman-temannya. Jelas sekali dia merasa bangga padaku.
Lalu, tiba-tiba sebuah suara melengking terdengar dari kejauhan memanggil namaku, menyuruhku untuk segera pulang karena hari sudah siang dan waktunya makan. Ternyata itu suara ibuku, beliau meneriakiku dari arah pintu dapur.
Aku bergegas turun dari pohon jambu air yang sejak tadi kukendarai.
Panas sekali hari ini.
***
Ketika kecil, aku sangat ingin menjadi seorang pilot, tetapi ayah ingin aku menjadi arsitek. Karena itulah, aku akhirnya disekolahkan ke luar negeri.
Setelah seumur-umur bercokol di negeri sendiri, lalu sekonyong-konyong pergi ke luar kampung, aku jadi merasa seperti seekor katak, yang malu-malu melongok dari bawah batok kelapa. Mataku terbuka lebar; dunia ternyata begitu luas, dan sampai saat ini ternyata aku masih menjadi seorang pengkhayal, aku bangga sekali.