Aina Munaroh berubah. Bukan menjadi jelek, tidak sama sekali. Ia tetap cantik; senyumnya masih merekah indah, dan lesung pipinya yang manis masih tetap ada di sana. Namun, gadis yang biasanya aktif di sekolah dan senang melenggang ke sana kemari sembari tersenyum ramah kepada semua orang itu, tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang sangat pendiam.
Biasanya, sepulang sekolah, Aina Munaroh selalu sigap membantu ibunya memarut kelapa, lalu memprosesnya dengan sabar sampai menjadi minyak kelapa. Kini, sepulang sekolah, ia jauh lebih suka mengurung diri di dalam kamar.
Tidak ada seorang pun yang tahu apa penyebab pastinya.
Ditanya... ia tak menjawab.
Dirayu... ia membisu.
Teman-teman di sekolahnya kebingungan, Ustaz Muharom ikut dilingkupi rasa bingung, begitu pula dengan ibunya yang terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sebenarnya mereka salah. Mereka seharusnya melayangkan pertanyaan itu kepada seekor cicak yang menempel di dinding kamar Aina Munaroh. Cicak kecil itu tahu betul bahwa setiap hari, Aina Munaroh hanya duduk termenung menekuri meja belajarnya. Jemarinya menggenggam sebuah pena, matanya menatap lekat sebuah diary berwarna biru yang terbuka.
Aina Munaroh tidak menuliskan apa-apa di sana. Di halaman diary biru yang hampir kosong itu, hanya ada sebaris tulisan:
“Pandan, 18 Agustus 2002.