Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #10

Pak Guru Panji

Dalam sidang malam itu, meskipun seluruh anggota istana sudah setuju untuk menguliahkanku agar menjadi arsitek, aku yang merasa lebih mengenal diriku sendiri—atau dalam bahasa keluarga sesungguhnya disebut "tidak tahu diri"—justru lebih memilih untuk mencari pekerjaan. Aku tak ingin nantinya kalah bersaing dengan sarjana-sarjana dari negara lain dalam mencari pekerjaan. Aku harus bergerak cepat, konon kabarnya, di era globalisasi ini, para sarjana dari Inggris akan ikut masuk menyerbu dan mencari pekerjaan.

Mendengar keinginanku, ibu menghela nafas dalam-dalam, ia menatapku dengan tajam, firasatku tidak enak; benar saja, Menteri Keuangan naik darah, lalu menyemburlah ceramah, nasihat, dan petuah yang dibungkus rapi dengan omelan, lalu ditutup dengan kalimat telak: "Lihat kakakmu, sarjana! Hidupnya enak sekarang. Lihat abangmu, sebentar lagi juga sarjana!"

Kakakku tidak mau kalah menambahkan kalimat tentang betapa pentingnya menuntut ilmu, bahkan sampai ke ujung dunia. Aku yakin, abang iparku yang sejak tadi mengintip dari balik pintu luar sebenarnya merasa gatal ingin ikut menceramahiku.

Kulirik abangku; tampaknya jiwa lelaki itu sedang melayang di ruang sidang skripsi. Matanya menerawang kosong memandangi lampu pijar yang menyala kekuningan, membuatku diam-diam terkikik di dalam hati.

Lalu, kutatap ayahku. Ia memandangku seperti biasa: tenang, tanpa ada kemarahan, hanya ada sedikit guratan rasa terkejut di sana. Mungkin ia merasa tidak percaya bahwa anak kecil yang dulu sering melompat-lompat naik ke punggungnya, sekarang sudah berani berkata "tidak."

Namun, kemudian muncullah sesuatu yang sejak tadi kutunggu; ayah tersenyum. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Bila ayahku sudah tersenyum, maka Menteri Keuangan tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.

***

 Ibuku uring-uringan melihatku berubah menjadi kelelawar. Sejak sore aku sudah keluar dari sarang, lalu siangnya aku melingkar nyaman di atas kasur. Menurutku, ini adalah menikmati masa muda, namun menurut ibuku, ini adalah pengangguran. Ibu tidak tahu, betapa besarnya jasaku menghidupkan kembali Poskamling yang sudah sejak lama berubah menjadi bangunan angker di perempatan jalan sana.

Sang Menteri Keuangan tampaknya merasa bahwa hal ini sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Genap satu tahun aku menjalani hidup sebagai kelelawar, sementara tanda-tanda para sarjana dari Inggris yang dikhotbahkan dulu tidak pernah nampak batang hidungnya.

Ibu benar-benar tidak paham esensi dari sebuah pengabdian sipil tanpa pamrih. Beliau mungkin ingin aku mendesain gedung-gedung pencakar langit sebagai arsitek berdasi, tetapi takdir justru memanggilku untuk menyelamatkan sebuah mahakarya arsitektur lokal sekelas Poskamling yang fondasi kayunya sudah hampir runtuh dimakan rayap.

Jika bukan karena pengorbanan batinku yang rela duduk begadang di sana setiap malam, bangunan sakral itu pasti sudah rata dengan tanah, atau lebih buruk lagi, dikuasai sepenuhnya oleh rombongan genderuwo perempatan jalan yang menolak membayar iuran keamanan. 

***

Lihat selengkapnya