Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #11

Apakah Artinya Cinta ?

Menjadi seorang guru, bahkan meski hanya berstatus honorer, tidak pernah ada sekali pun di dalam gambaran masa depanku. Disukai oleh banyak perempuan juga merupakan hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Selama ini, aku hanya pernah mengenal sedikit getaran rasa; waktu pertama kali mataku beradu pandang dengan seorang perempuan di sore itu. Aku tidak tahu getaran jenis apakah itu, yang jelas, kadang-kadang getaran itu masih hadir menyelinap di dada, meskipun aku tidak pernah lagi melihat sosoknya.

Hari-hariku kemudian berlalu seperti biasa: mengajar Bahasa Inggris dan mengantuk sambil mendengar celoteh panjang Bu Dewi tentang teman-teman kuliahnya dulu. Cerita-cerita itu terkadang membuatku bertanya-tanya di dalam hati; apakah perempuan itu benar-benar menyukaiku, atau aku saja yang terlalu besar kepala? Namun, setiap kali melihat wajahnya yang mendadak merengut masam seperti kertas yang diremas-remas saat aku berinteraksi dengan orang lain, aku merasa tebakanku tidaklah keliru.

Apalagi bila ia melihat Lala, murid baru yang anak kepala polisi itu, sering bermanja-manja denganku. Wajah Bu Dewi akan langsung berubah muram ibarat langit yang menyongsong kiamat, lalu ia akan buru-buru pergi dari hadapanku.

Sepertinya, Lala juga bisa merasakan kecemburuan itu. Parahnya lagi, anak kepala polisi itu seperti sengaja memanfaatkan keadaan untuk membuat Bu Dewi semakin resah. Lala tampaknya sangat menyukai sesuatu yang memicu adrenalin seperti ini.

Seringkali, dalam radius beberapa meter dari posisiku berdiri, atmosfer sekolah mendadak berubah menjadi medan magnet yang sangat tidak stabil. Bertemunya dua kutub kecantikan ini terasa seperti simulasi bencana alam di kepalaku. Di sudut kiri ada Bu Dewi dengan pesona PNS-nya yang mapan, dan di sudut kanan ada seseorang yang memiliki status menggetarkan sebagai anak kepala polisi. Menghadapi situasi sepadat ini, nama "Pak Guru Panji" yang tadinya terasa gagah nian, mendadak berubah menjadi nama buronan internasional yang sedang terkepung di dalam benteng pertahanan lawan.

Logika kelelawarku langsung berputar mencari jalan pintas untuk evakuasi mandiri. Sungguh sebuah ironi yang sangat menyiksa batin; memiliki banyak penggemar wanita cantik seharusnya membuat seorang pria pulang dengan dada membusung penuh kemenangan. Namun bagiku, popularitas ini justru terasa seperti mendapat surat panggilan sidang dari kejaksaan agung.

Aku ngeri setengah mati jika berita tentang "banyaknya penggemar Pak Guru Panji" ini sampai bocor dan tercium oleh intelijen rumah tangga kami—yaitu ibuku sendiri. Jika sang Menteri Keuangan sampai mengendus ada dua faksi wanita cantik yang sedang memperebutkan anak laki-lakinya, yang berpenghasilan seratus dua puluh lima ribu rupiah ini, aku yakin kasur di kamarku malam nanti tidak hanya akan dipukuli sampai bergema, tapi mungkin akan dibakar sekalian sebagai ritual pembersihan aura yang menyesatkan. Kawan, menyelamatkan diri dari kepungan dua wanita cantik di sekolah ternyata membutuhkan strategi militer yang jauh lebih rumit daripada taktik catur Sun Tzu milik ayahku.

Aku hanya bisa menghela napas. Di saat orang-orang sibuk memikirkan masa depan bangsa, aku justru terjebak di antara dua wanita yang memperebutkan perhatian seorang laki-laki yang hatinya sudah telanjur tersesat pada orang asing.

***

Hari itu, guru Fisika berhalangan hadir. Sakit mencret katanya. Begitulah yang kudengar. Kepala sekolah memanggilku dan memberikan tugas untuk menggantikan beliau mengisi pelajaran Fisika di kelas satu.

Aku bersyukur diberi kemampuan yang serbabisa. Aku memang tidak merasa pintar, tetapi kapasitas otakku mungkin agak mengarah ke level itu. Kakakku pintar, abangku juga pintar, sedangkan aku? Setengah-setengah. Aku tidak seperti mereka. Konon kata ibuku, ketika kakak dan abangku masih bayi, ibu selalu rajin membacakan surat Al-Insyirah lalu meniup ubun-ubun mereka. Katanya, surah itu berkhasiat bisa membuat anak menjadi cerdas dan pintar. Namun, melihat otakku sekarang, aku menaruh curiga jangan-jangan ibuku tidak pernah selesai membacakan surat Al-Insyirah untukku, sehingga kecerdasanku tumbuh agak tanggung dan malu-malu. Boleh dikatakan, pengetahuanku lumayan, tetapi juga tidak bisa disebut sangat pintar.

Mungkin saat aku bayi dulu, Ibu tidak sampai selesai meniup ubun-ubunku karena beliau harus buru-buru mengangkat jemuran karena hujan yang turun tiba-tiba.

Lihat selengkapnya