Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #12

Dawai Itu Bergetar Lagi

Aku memilih berhenti menjadi seorang guru. Bukan karena aku tidak menyukai pekerjaan itu. Aku sangat senang dengan suasananya; aku menikmati perasaan ketika disukai oleh Bu Dewi, Lala, ataupun siswi-siswi lainnya di sekolah. Aku memutuskan berhenti hanya karena aku tidak ingin menjadi sesuatu yang pada akhirnya justru membuat orang lain merasa terluka.

Diiringi oleh tatapan sayu dan penuh tanda tanya dari Bu Dewi, aku melangkah meninggalkan pekarangan sekolah. Hari ini, aku kembali resmi menyandang status sebagai seorang pengangguran. Meskipun aku sangat yakin Menteri Keuangan akan kembali berulah dan entah rencana apa lagi yang akan dibuatnya, namun untuk kali ini, aku bertekad akan berjuang dengan kakiku sendiri.

Tuhan tahu, tetapi Tuhan menunggu; begitu ungkapan bijak yang pernah kudengar. Dan pada akhirnya, kesempatan yang kunanti itu pun datang juga. Aku tidak perlu menganggur terlalu lama. Secara tidak sengaja, Ibam yang bekerja sebagai seorang instalatur listrik mengajakku untuk bergabung dengannya.

Jujur saja, kali ini aku merasa kehilangan rasa percaya diri. Menghadapi pelajaran Bahasa Inggris aku masih bisa menerima, atau urusan menggambar bangunan, itu memang bidang sekolahku dulu.

Namun, berurusan dengan kabel dan aliran listrik, ini benar-benar sesuatu yang baru bagiku. Awalnya aku ragu, tetapi kupikir, daripada harus terus-terusan menghadapi tatapan tajam dari Menteri Keuangan di rumah, jauh lebih baik aku pergi mencari pengalaman baru di luar.

Meninggalkan dunia kapur tulis dan melangkah masuk ke semesta tegangan tinggi bersama Ibam terasa seperti menandatangani perjanjian yang sepenuhnya buta arah. Skala bahaya dalam hidupku kini telah resmi naik tingkat. Jika di sekolah aku hanya perlu mengendalikan hukum fisika di atas papan tulis, kini di bawah bendera instalatur listrik bentukan Ibam, aku harus bersiap menghadapi aliran setrum yang tidak kenal kompromi.

Satu kesalahan kecil dalam memotong kabel tembaga tidak akan berakhir dengan tawa riuh murid kelas satu, melainkan ledakan korsleting dramatis yang penuh bunga api, dan membuat rambut Pak Guru Panji berdiri tegak menantang langit.

Aku telah resmi menutup buku sebagai guru kehormatan dan siap membuka lembaran baru di jalanan berdebu. Bersama Ibam si bintang film gadungan yang narsisnya seluas samudra. Aku harus membuktikan kepada Menteri Keuangan, bahwa anak lelakinya yang berotak tanggung ini mampu menjadi pawang aliran listrik, meskipun hanya kelas kampung.

Maka, terlibatlah aku dalam sebuah dunia baru dengan lambang tiga gelombang biru dan sambaran petir berwarna merah. Aku memulainya semuanya secara otodidak, tanpa ilmu, hanya berbekal kemauan dan bayangan wajah Menteri Keuangan yang sedang menatapku.

***

"Pan, kau tahu? Memasang instalasi listrik itu adalah hal yang sangat gampang! Seujung kuku!" kata Ibam dengan pongah sambil menjentikkan jarinya ke udara. "Aku ini memang hanya lulusan SMA, tetapi soal setrum, aku ini ahlinya.” Ibam memulai. Sore itu kami duduk di pinggir lapangan bola. Aku hanya diam mendengarkan, karena aku tahu betul bahwa Ibam adalah saingan terberatku dalam hal membual.

“Bahkan kalau boleh jujur, aliran listrik di dalam kabel itu sudah menganggapku sebagai saudara kandung mereka sendiri." Ibam melanjutkan ucapannya sendiri, mengembuskan asap rokoknya dalam-dalam sambil menatap langit. Rupanya bualan itu masih belum cukup:

"Kau tahu? Sudah berapa ratus tiang listrik yang kupanjat? Hampir tiga ratus tiang, Pan! Tiga ratus! Bahkan saking seringnya aku berada di atas sana, burung-burung di kabel listrik itu sudah menganggapku seperti ketua kelompok mereka."

Aku tetap diam. Kupikir, tidak mungkin aku bisa mengalahkannya dalam adu membual saat ini, karena aku memang masih sangat buta dengan hal-hal yang berhubungan dengan arus listrik. Namun, memoriku mendadak berputar ke sebuah kejadian menggelitik beberapa waktu lalu.

Seingatku, aku pernah melihat kaki Ibam bergetar ketika ia dipaksa berdiri di atas meja kayu yang agak tinggi untuk mengganti lampu teras rumah Mahadi. Membayangkan orang yang gemetar di atas meja setinggi satu meter tetapi mengaku telah memimpin koloni burung di atas tiang listrik, membuatku harus berjuang keras menahan tawa agar tidak menyembur di depan mukanya.

"Pokoknya, besok kau ikut aku memasang instalasi listrik ke rumah warga. Tidak tega aku melihat kau terus-terusan bergelung takluk di hadapan ibumu itu! Biarlah aura ketampanan dan keahlianku ini menular sedikit ke dalam dompetmu," seru Ibam sambil bangkit dan beranjak pergi, sengaja berjalan agak lambat seolah-olah ada kamera wartawan yang sedang merekam punggungnya dari belakang.

Aku memandang punggungnya yang menjauh sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

 “Tunggu saja, suatu hari nanti akan kukalahkan kau!” kataku di dalam hati.

*** 

Perluasan jaringan listrik dari ibukota kecamatan di kampungku mulai mengarah ke wilayah perkampungan di sebelah selatan. Hanya ada jalan setapak untuk menuju ke sana, bekas jalan aspal peninggalan tahun delapan puluhan. Jalan lurus yang memanjang dari kampungku hingga ke ujung batas di pesisir pantai. Kini, jalan itu hanya menyisakan pecahan batu-batu besar dan tajam yang berserakan, sedangkan lapisan aspalnya sudah lama minggat dimakan oleh zaman.

Ibam mendapatkan proyek borongan untuk pemasangan instalasi listrik di rumah-rumah penduduk. Tugas kami adalah memasang instalasi kabel hingga listrik benar-benar menyala di rumah pelanggan. Maka, jadilah pada keesokan harinya aku resmi menjadi anak buah Ibam.

Aku duduk merana di boncengan sepeda motor bututnya, memeluk erat sebuah kardus besar berisi peralatan kerja dan material listrik yang penuh sesak. Tubuhku terguncang-guncang hebat di sepanjang jalan berbatu besar yang kami lalui.

Lihat selengkapnya