Sejak hari itu, jalan berbatu yang menghancurkan ginjal berubah menjadi komidi putar yang seru, jembatan shiratal mustaqim, berubah menjadi pelangi, yang diujung sana para bidadari sedang mandi.
Aku berangkat kerja dengan dada yang bergemuruh penuh pasokan semangat harian, meskipun pada realitas yang menyedihkan, aku seperti tumpukan daging bisu yang duduk dengan pasrah di jok belakang motor Ibam.
Setelah pertemuan yang menggetarkan jiwa kemarin, aku merayu Ibam untuk kembali singgah di warung itu setiap sore.
Hari pertama, dia tak terlihat.
Hari kedua, masih tak ada.
Hari ketiga, nihil.
Hari keempat, aku masih berharap, tetap tak nampak..
Hanya seorang ibu setengah baya yang ada, mungkin itu adalah ibunya.
Aku tak berkecil hati, aku tak akan menyerah, bukankah sudah kutemukan rumahnya? Rumah orang yang sudah membuat dawai dihatiku bergetar-getar.
"Pan, ini hari ketujuh kau mengajakku singgah disini. Artinya, sudah tujuh hari bosmu ini harus pulang dan tak menemui makan malam di rumah." Ibam mulai ceramah. "Istriku marah, Pan!" omelnya lalu beringsut mendekat.
"Aku curiga, ibu itu sudah memberimu ilmu pelet. Senang sekali kau memandang wajahnya." sambil melirik pemilik warung, Ibam berbisik lagi:
"Aku tahu ibu itu ingin memeletku karena aku lebih tampan darimu. Tapi, karena dia adalah dukun, dia pasti tahu aku sudah punya istri. Maka, tak apalah dia sedikit rugi ketika memeletmu," bisik Ibam lagi. Aku mendelik, Ibam bergegas mundur.
" Sejak kapan pula kapasitas wajahmu itu berada di atas ketampananku?" batinku dengan gusar.
Ketika akan pulang, diatas sepeda motor bututnya, Ibam berkata dengan serius.
"Pan, bila kau tak mau memberitahu konspirasi apa yang sedang terjadi, ini akan menjadi hari terakhir aku menuruti maumu".
Akhirnya, di sepanjang jalan pulang sore hari itu—sembari duduk pasrah di boncengan, merana diguncang-guncang oleh jalanan berbatu, memeluk erat kardus peralatan kerja, dilingkari sisa gulungan kabel hitam, serta membawa sepotong hati yang terasa kosong dan kecewa—kuceritakan seluruh kejadian yang kualami kepada Ibam tanpa ada yang ditutup-tupi.
Anehnya, Ibam hanya terdiam seribu bahasa sepanjang perjalanan. Entah dia benar-benar khusyuk mendengarkan ceritaku, atau sebenarnya isi pikirannya sudah terbang sampai ke rumah dan membayangkan istrinya sudah menunggu di depan pintu sembari bersiap melemparkan wajan anti lengket ke arah kepalanya.
Setibanya kami di gudang kantor PLN unit kecamatan, setelah menyusun dengan rapi seluruh material sisa pekerjaan instalasi listrik hari ini, kami pun beranjak untuk keluar. Tepat di ambang pintu, tiba-tiba saja Ibam menepuk bahuku dengan pelan. Aku menghentikan langkah, lalu menoleh .
"Pan, setelah mendengar seluruh ceritamu tadi, aku meminta maaf karena sebelumnya telah lancang menyebut mertuamu sebagai seorang dukun," kata Ibam.
Aku mengernyitkan dahi dengan bingung.
"Mertua?!"