Di gudang PLN, Ibam ternganga melihatku memakai seragam, tapi itu hanya reaksi sementara. Selebihnya, ia menghampiri lalu menepuk bahuku sambil tertawa lebar.
"Hahahaha, selamat kawan, tak kukira kau tampak lebih tampan ketika memakai seragam!" Ditarik-tariknya lengan bajuku, seakan ingin memastikan seragam itu asli.
"Sepertinya, aku tak bisa lagi menyuruh-nyuruhmu! Tapi, tak apalah."
Ibam mendekat lalu berbisik.
"Bila kau tetap menganggapku sebagai bos, aku punya sesuatu untukmu, tentang gadis di Kampung Pandan." Wajah Ibam tampak aneh ketika ia menyeringai, penuh intrik dan muslihat.
"Apa itu, Bos?" Aku tak tahan, sejak kapan aku menganggapnya bos.
Ibam tertawa lagi dengan keras, lalu duduk di bawah pohon di samping gudang.
"Kemarilah, aku tak tahan melihat raut wajahmu..!" katanya.