Aina Munaroh menghela napas panjang sembari jemarinya memeluk erat sebilah diary biru. Ia memandangi buku harian itu dengan tatapan yang tampak kosong, tetapi seulas senyum tipis justru terukir manis di bibirnya. Sebuah kalimat indah telah tertulis rapi di sana:
"Engkau adalah rahasia."
Aina Munaroh tahu bahwa ia tidak harus menuliskan apa-apa lagi sekarang. Kalimat pendek itu rasanya sudah lebih dari cukup untuk menjawab segala bentuk pertanyaan pelik yang selama ini berkecamuk di dalam hatinya. Bagi Munaroh, satu kalimat itu sudah berhasil membuat seluruh halaman diary-nya terasa penuh—penuh dengan bayangan wajah yang tergambar samar, serta sepasang mata teduh yang menenangkan ibarat sebuah telaga di pegunungan yang sunyi.
Kini, ia tidak lagi didera rasa resah. Entah mengapa, pertemuan kedua yang sama sekali tidak disengaja di warung es teh milik ibunya tempo hari secara ajaib membuat seluruh kegelisahannya lenyap tak berbekas, menguap begitu saja seperti air di atas tungku. Hati kecilnya berbisik bahwa mulai saat ini, ia hanya harus menunggu. Meskipun ia tidak tahu apa dan siapa yang sedang ditunggu, namun sejak menerima kenyataan itu, keresahan yang sempat mengganggu hari-harinya perlahan menghilang, persis seperti embun pagi yang lenyap ketika matahari mulai meninggi.
Ada kalanya, hati memang telah selesai berbicara jauh sebelum pena berhasil menemukan kata-kata. Aina Munaroh menutup diary birunya dengan perlahan, tepat ketika pintu kamar kosnya mendadak diketuk dari luar. Sesaat kemudian, Emi, sahabatnya di sekolah, langsung menerobos masuk tanpa permisi.
"Hayoo... ketahuan melamun lagi!" seru Emi jenaka. "Eh... kamu sedang menulis apa, sih? Lihat dong!"
Emi memandangi Aina Munaroh dengan tatapan menyelidik yang usil. Sesaat kemudian, senyum lebar langsung memancar dari wajahnya. "Kamu jatuh cinta ya?!" goda Emi lalu tertawa terbahak-bahak.