Ibam melenggang di depanku. Ia berjalan lambat-lambat sambil membusungkan dada, seolah ingin memamerkan saku depan kemejanya. Aku merasa ada yang ganjil, lalu sedetik kemudian aku menyadari ada sesuatu yang tidak biasa di sana. Ada seberkas cahaya kecil berwarna hijau berkelap-kelip genit di balik saku kemejanya. Aku langsung mengerti apa benda itu, tetapi aku memilih berpura-pura bodoh karena ingin mengerjainya.
Tingkah Ibam semakin misterius. Ia berjalan dengan gestur kaku, berusaha keras menonjolkan bagian sakunya dengan cara yang menurut definisinya sangat jantan, tetapi di mataku justru terlihat menggelikan, seperti seekor biawak yang belajar berdiri. Aku mati-matian menahan tawa agar tidak pecah saat itu juga.
"Kau tahu tidak, Kawan?" kata Ibam memecah keheningan sambil menyorongkan dadanya lebih dekat ke arahku. Matanya melirik-lirik genit ke arah saku kemejanya, memberi isyarat tidak sabar agar aku memandang ke arah yang dimaksudkannya. Aku hanya menggaruk kepala yang tidak gatal, menatapnya dengan raut bingung yang sengaja kubuat-buat.
Ibam seketika menghempaskan tangannya ke udara dengan raut frustrasi karena respons pas-pasanku. "Lihat ini, Kawan, HP! Alias henpon!"
Ibam merogoh saku kemejanya dengan khidmat, lalu mengacungkan sebuah benda plastik hitam berukuran tebal yang memiliki tonjolan antena kecil di bagian atasnya. "Ini henpon, Kawan! Lihat lampu sinyalnya, kelap-kelip indah sekali, bukan?" seru Ibam bangga sembari membelai pelan permukaan ponsel barunya seolah itu adalah jimat pusaka.
Aku berusaha keras menahan tawa agar tidak meledak. Aku tentu tahu benda apa itu, meskipun aku sendiri belum memilikinya. Aku hanya belum berniat membelinya karena merasa hidupku belum benar-benar memerlukan kotak elektronik sekecil itu.
Lalu, dengan tingkat kepongahan yang naik satu tingkat, Ibam menekan tombol karet ponselnya beberapa kali. Sedetik kemudian, mengalunlah intro musik dangdut klasik bernada melankolis kesukaannya; sebuah lagu patah hati dari Mansyur S. : Pelaminan Kelabu.