Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #17

Radio

Entah mengapa, perlahan-lahan aku mulai bertransformasi menjadi ayahku dalam satu hal kecil: kebiasaan menikmati waktu sunyi. Jika ayah sangat senang duduk diam di teras rumah untuk menikmati rembang petang, maka aku justru lebih menyukai duduk di tempat yang sama pada malam harinya. Alhasil, kini teras rumah kayu kami memiliki dua penghuni tetap yang secara akur hadir bergiliran menjaga kesepian malam: aku dan ayahku.

Jika sore hari ayah duduk di teras memandangi riak air Sungai Mentaya yang bersepuh cahaya senja, maka pada malam harinya akulah yang mengambil alih takhta itu. Aku duduk bersandar di kursi kayu, memandangi hamparan bintang-bintang di langit malam yang bersih sembari mendengarkan siaran radio melalui perangkat handphone baruku.

Sayup-sayup terdengar suara yang hangat dari seorang pembawa acara: "Selamat malam, Pendengar setia Radio Katana FM... Kembali lagi bersama saya, Rani, dalam acara Melukis Malam Bersama Puisi, yang akan setia menemani waktu istirahat Anda hingga tengah malam nanti."

Terdengar lantunan melodi intro musik instrumen piano yang tenang, mengalir lambat membelah keheningan malam yang kian pekat. Penyiar bernama Rani itu kemudian melanjutkan ucapannya dengan intonasi yang lembut: "Malam ini, izinkan saya membacakan sebuah bait puisi indah karya seorang tanpa nama, sebuah sajak yang diberi judul Senja dan Rindu.”

Suasana di sekitarku seketika terasa hening sejenak, hanya menyisakan desir angin malam pesisir, sebelum akhirnya bait demi bait puisi itu mengalir tenang langsung meraba bagian terdalam hatiku:

Jika senja adalah cara langit berpamitan, maka harapan adalah cara hati untuk bertahan.

Tidak semua yang jauh menjadi hilang, dan tidak semua yang diam berarti telah pergi.

Lihat selengkapnya