Sabtu pagi, sinar matahari terasa hangat dan lembut. Sisa-sisa embun semalam masih menempel bening di atas permukaan daun-daun keladi. Di sudut halaman, beberapa ekor ayam peliharaan ibu riuh berkotek bersahutan sambil mengais-ngais tanah yang basah.
Hari ini aku menemani ayah memperbaiki pagar depan rumah yang bilah-bilah kayunya mulai lapuk dan saling terlepas. Aku bertugas mengukur dan memotong kayu pengganti, sementara ayah dengan ketelatenan seorang pria tua memasangnya kembali ke rangka pagar. Di tengah keasyikan kami bekerja, sebuah suara yang teramat riang mendadak memanggil namaku dari arah seberang rumah.
"Bang Panji...!"
Aku menghentikan ayunan gergaji lalu menoleh. Emi, sepupuku, sedang melambai-lambaikan tangannya di teras rumahnya sembari menyunggingkan senyum riang.
"Tumben sekali anak ini memanggilku dengan manis," gumamku pelan. Aku meletakkan perkakas, lalu melangkah beranjak berjalan ke arah rumahnya.
"Bang, ada yang menitip salam untukmu!" kata Emi langsung begitu aku sampai di tangga teras. Matanya berkedip-kedip jahil dengan senyuman yang merekah lebar. Emi memang gadis yang cantik, berkarakter riang, dan sedikit manja.
"Salam? Titip duit dong sekali-sekali!" gurauku.
Emi langsung terbahak mendengar respons pas-pasanku.
"Diterima tidak, Bang?"
"Hah? Terima apa?" aku pura-pura bingung.
"Salamnya...!"