Diiringi tatapan jengkel dari kakakku karena sepeda motor bebeknya kubawa kabur tanpa izin, sore itu aku akhirnya melaju pergi membonceng Emi. Kami harus menumpang perahu mesin untuk menyeberangi Sungai Mentaya guna menuju ke ibu kota kecamatan seberang—tempat di mana gelaran pasar malam itu diselenggarakan.
Setibanya di seberang, kami tiba di depan sebuah rumah kos sederhana yang dindingnya berwarna hijau muda. Rumah kos ini tampak seperti sebuah rumah tinggal yang dialihfungsikan menjadi kamar-kamar sewaan. Emi segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang pacar agar minta dijemput, lalu ia mengajakku untuk duduk sejenak di teras depan.
"Sebentar ya, Bang... aku panggilin Aina dulu." kata Emi riang, lalu bergegas melangkah masuk ke dalam area kos-kosan.
Angin sore berembus semilir membawa kesegaran khas pesisir. Di sudut teras, beberapa kuntum bunga mawar di dalam pot tanah liat nampak mekar dengan segar. Sebatang pohon bugenvil berwarna ungu rimbun juga tampak bergoyang lembut di dekat pagar tembok rumah kos. Suasana di sekitar sini sebenarnya terasa teramat tenang, teduh, dan damai—setidaknya sebelum sebuah interaksi canggung dimulai.
Sebuah sepeda motor mendadak memasuki pekarangan halaman kos. Seorang lelaki muda yang usianya kutaksir seumuran dengan Emi turun dari atas jok, lalu melangkah berjalan ke arah teras tempatku duduk.
"Eminya ada?" tanya lelaki itu langsung kepadaku sembari melepas helmnya.
Aku hanya mengangguk pelan tanpa suara, memberi isyarat dengan daguku bahwa Emi saat ini sedang berada di dalam rumah. Lelaki itu sempat melongokkan kepalanya dalam rumah kos, lalu perlahan mengambil posisi duduk di kursi kayu yang letaknya tidak jauh dariku.
Suasana seketika berubah menjadi hening. Lelaki itu tampak sibuk memainkan tombol-tombol ponselnya untuk mengusir canggung. Setelah beberapa menit berlalu dalam kepungan keheningan yang menyiksa, ia akhirnya menoleh ke arahku dengan raut wajah yang tampak sedikit resah.
"Nungguin siapa?" tanyanya mencoba membuka obrolan.
"Emi," jawabku singkat.
Raut wajah lelaki di depanku ini berubah. Ia menatapku dengan lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu secara tidak sadar tangannya mulai bergerak merapikan tatanan rambutnya sendiri.
“Ini pasti pacarnya Emi,” aku menebak di dalam hati.
"Kamu siapa?" dia bertanya lagi, kali ini dengan nada suara yang sedikit ditekan.