Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #20

Mirai e

Emi memang benar-benar adik sepupu yang mengerikan sekaligus tidak punya perasaan. Setelah puas memarahi pacarnya habis-habisan, ia langsung menarik lengan kami untuk pergi menuju pasar malam. Dengan semena-mena, ia menyuruhku membonceng Aina Munaroh di belakang.

Parahnya lagi, pacar Emi yang entah memang memiliki mental seorang pembalap atau sekadar ingin melarikan diri dari jangkauan intimidasiku, langsung memacu motornya dengan kencang. Mereka meninggalkan kami di tikungan pertama dan tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya hingga kami tiba di area pasar malam.

Kondisi di atas motor terasa teramat canggung. Aku merasa seolah-olah sedang menarik ojek, karena Aina Munaroh memilih duduk dengan jarak yang begitu jauh di ujung belakang jok motor bebek Kak Susi. Sepanjang perjalanan, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun atau melayangkan pertanyaan. Ia hanya diam mematung di boncengan. Namun, aku sendiri pun lebih memilih bungkam, sibuk mengendalikan debaran aneh yang terus bergejolak di dalam dadaku di sepanjang jalan.

Setibanya di pasar malam, Emi ternyata sudah menunggu kami di depan gerbang masuk dengan wajah tanpa dosa. Begitu melihat kedatangan kami, ia langsung menggandeng pacarnya untuk mengantre dan menaiki komidi putar, lalu tertawa-tawa bahagia di atas sana tanpa memedulikan nasib kami berdua.

Aku berdiri dengan bingung, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk mencairkan keheningan di antara kami. Akhirnya, setelah mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa, aku berbisik pelan, "Mau naik komidi putar juga?"

Sungguh, aku merasa asing dengan suaraku sendiri saat itu. Intonasinya terdengar bergetar aneh, seolah-olah itu bukan keluar dari tenggorokanku.

Aina Munaroh menatapku dengan lembut, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Namun, penolakannya itu sama sekali tidak memudarkan senyuman manis di bibirnya, dan sepasang matanya tampak benar-benar bercahaya di bawah temaram lampu pasar malam. Aku kembali terpaku dalam diam di bawah tatapannya.

Akhirnya, aku memilih untuk berjalan menuju sebuah kursi kayu panjang yang kosong di sudut area bermain. Aina Munaroh melangkah menyusul di belakang, lalu mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Tidak ada percakapan di antara kami. Kami sama-sama memilih tenggelam dalam kesunyian masing-masing di tengah riuh rendahnya suara pengunjung pasar malam.

Namun anehnya, ketika Emi mendadak muncul kembali dan dengan santai mengajak kami untuk segera pulang, waktu seolah-olah baru saja berjalan dengan kecepatan penuh. “Awas kau nanti, Emi! Dasar adik tidak tahu diuntung!” rutukku kesal di dalam hati.

*** 

Malam itu berakhir tanpa adanya kata-kata bermakna yang terucap. Namun bagiku, momen diam di bawah langit pasar malam itu sudah terasa lebih dari cukup. Aku tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Aina Munaroh, tetapi sekali lagi, memandang wajahnya dari dekat malam itu membuat segala hal di dunia ini terasa genap. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi, melainkan hanya ingin waktu berhenti agar aku bisa terus memandangnya. Mungkin, momen saat kami sama-sama membisu di tengah keramaian adalah kenangan abadi yang akan terus kuingat sampai nanti.

Namun, aku sama sekali tidak mengetahui bahwa malam itu, sesampainya di rumah kos setelah kuantar pulang, Aina Munaroh langsung mengambil diary birunya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan tersenyum sendirian dalam waktu yang sangat lama, hingga membuat Emi kebingungan menyembunyikan rasa herannya.

"Kok kamu senyum-senyum terus sejak tadi, Aina?!" selidik Emi heran.

Lihat selengkapnya