Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #21

Lima Tahun itu Tidak Lama

Tidak terasa, sudah satu tahun aku menjalin kedekatan dengan Aina Munaroh. Ia tetap menjadi sosok gadis yang tenang, lembut, dan teduh, sementara aku perlahan-lahan mulai kehilangan bakat utamaku untuk membual. Setiap kali aku sedang menghabiskan waktu bersamanya, aku selalu berharap agar waktu tidak berjalan dengan cepat. Aku bahkan sering kali mengomeli Ibam yang usil meneleponku di saat-saat kebersamaan kami.

Ketika malam Minggu tiba dan aku sedang terbebas dari jadwal piket PLN, kami sering kali hanya duduk berdua di teras kosnya, diam menikmati hamparan langit malam yang bertabur bintang. Cara kami berkomunikasi pun tergolong unik; sebagian besar obrolan mendalam kami justru mengalir melalui lembaran diary biru milik Aina. Jika ia menyodorkan buku harian itu kepadaku, itu adalah isyarat bahwa aku harus menuliskan kata-kata di sana.

Aku masih ingat betul cerita dari adik sepupuku, Emi. Waktu Aina pertama kali menerima kembali diary yang kutulisi kalimat balasan itu, ia sempat tersenyum lebar. Namun, sedetik kemudian wajahnya mendadak merengut karena tidak terima. Ia menuduh Emi yang menuliskan kalimat usil tersebut di buku pribadinya, hingga membuat Emi panik lalu meneleponku malam-malam demi meminta pengakuanku secara langsung.

Emi pun sempat ikut marah besar atas keusilanku saat itu, sedangkan aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak menerimanya. Namun, begitu mendengar jawabanku langsung bahwa tulisan pendek itu memang benar-benar berasal dariku, senyum Aina Munaroh seketika kembali merekah indah. Buku diary biru itu pun selalu disimpan dengan sangat hati-hati di dalam laci mejanya, dijaga seakan-akan itu adalah sebuah barang keramat yang berharga.

Satu tahun yang penuh dengan debaran rasa itu berlalu dengan teramat indah. Sebentar lagi, Aina Munaroh akan resmi menyelesaikan sekolahnya di kota kecamatan seberang. Malam itu, seperti kebiasaan kami sebelumnya, aku menemaninya memandangi malam yang bertabur bintang. Angin semilir berembus lambat, menggoyangkan dedaunan dan gugusan kelopak bunga bungur yang mekar keunguan di sudut halaman. Aku melirik paras Aina Munaroh yang tampak tenang dari samping, lalu kucoba mengumpulkan segenap keberanian di dalam dada untuk menyuarakan sebuah niat besar yang sudah sejak lama kusimpan rapat.

"Aina, aku tidak mencari pacar. Aku ingin mencari istri. Bila aku melamarmu, apakah kamu akan menerima?" tanyaku lambat, menatap lurus ke arah matanya dengan perasaan yang bergolak tidak menentu.

Ada gurat jejak keterkejutan yang sempat melintas di wajah cantiknya. Ia balas menatapku dalam-dalam dengan matanya yang bening, sebelum akhirnya seulas senyuman manis kembali merekah di bibirnya.

"Abang tanyakan saja langsung kepada ayah dan ibuku di kampung. Aku akan menurut saja..." bisiknya dengan nada suara yang sedikit bergetar, lalu ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Ya, Tuhan, kenapa Engkau ciptakan makhluk seindah ini!” batinku menjerit, membumbung tinggi ke langit malam.

*** 

Keesokan harinya, Ibam hanya bisa menggelengkan kepala dengan raut tidak percaya saat mendengar ceritaku tentang niat melamar Aina. Namun, di balik ekspresi herannya, seulas senyuman ikut mengembang di wajah sahabatku itu.

"Pan, apa pun keperluan yang kamu butuhkan untuk urusan lamaran ini nanti, bilang saja kepadaku!" ujar Ibam menyeringai lebar.

"Kalau begitu, bayar saja semua utangmu!" sahutku.

"Kau ini memang sialan! Urusan utang itu perkara lain!" gerutu Ibam kesal.

Aku terbahak mendengarnya. Tentu saja aku hanya sedang bercanda, karena bagiku Ibam sudah seperti saudara kandung sendiri.

"Kau tenang saja, Kawan. Kalau proyek jaringan listrikku yang baru ini berhasil tembus, akan kubayar semua utangku. Lalu setelah itu, aku yang akan mengutangimu! Meskipun kau menolak, akan kupaksa agar kau berutang padaku!" seru Ibam lagi dengan penuh kepongahan yang khas.

"Tidak usah dipikirkan terlalu serius, Kawan," kataku tertawa sembari merangkul bahunya dengan erat.

*** 

Sore itu, permukaan Sungai Mentaya tampak berkilau kemerahan, bermandi cahaya dari pantulan sang surya yang bersiap turun di ufuk barat. Ombak-ombak kecil berkejaran dengan riang, meninggalkan sisa buih yang perlahan menyingkir ke tepian pantai.

Sejak satu jam yang lalu, aku memilih duduk diam, menemani ayah memandangi bentangan langit senja yang mulai memerah dari teras rumah. Itulah ritual unik ayahku sejak dulu; entah filosofi mendalam apa yang membuatnya begitu gemar merenungi datangnya senja sendirian. Di dalam benak usilku, aku sering kali berpikiran bahwa mungkin pada saat-saat sunyi seperti inilah ayahku mengisi kembali energi jiwanya, setelah seharian penuh harus tabah menerima omelan dari sang Menteri Keuangan.

Akhirnya, aku mencoba memberanikan diri untuk memecah keheningan di antara kami, mencoba mempraktikkan susunan kalimat yang sebelumnya sempat diajarkan oleh Ibam.

"Ayah, sekarang aku sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Aku juga memiliki pekerjaan dan berseragam." kataku membuka percakapan.

Tidak ada jawaban dari ayah. Pandangannya masih lurus menatap riak air sungai.

Lihat selengkapnya