Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #22

Lelaki dan Dermaga

Aina Munaroh lulus sekolah. Dia senang.

Aina Munaroh akan kuliah. Aku sedih.

Di sudut hatiku yang paling gelap, ada kecemasan yang terpahat secara perlahan, ada jurang yang tiba-tiba membentang dan langkah kakiku yang tertahan di sini.

Hari yang paling kutakutkan akhirnya tiba. Sore itu, terminal seolah menahan napas. Suara bising mesin dan teriakan kenek tenggelam oleh gemuruh sepi yang mendesak di antara kami. Kami berjalan bersisian tanpa sepatah kata pun. Jarak beberapa senti di antara lengan kami terasa seperti jurang yang enggan kami seberangi.

Tepat di depan pintu lipat bus yang berkarat, langkah Aina terhenti. Ia berpaling lalu menatap mataku, menyodorkan sebuah buku harian bersampul biru. Tangannya gemetar, detik berikutnya, jemarinya meremas punggung tanganku—erat, lama, seolah dia sedang menyalurkan seluruh ketakutan yang tidak berani dia ucapkan.

 Sebentar lagi dia akan pergi untuk melanjutkan kuliah, dan aku tahu separuh jiwaku akan ikut pergi. Ketakutan itu nyata, mencekat tenggorokanku hingga tak ada satu pun kata pelepasan yang sanggup kuucapkan. Sebelum aku sempat membalas genggaman itu, dia mendekatkan wajahnya. Sebuah kecupan yang mengandung kepedihan mendarat dipipiku.

"Sekarang, giliran abang yang menunggu," bisiknya sambil tersenyum, lalu berbalik, matanya berkaca-kaca. Dia melangkah cepat menaiki tangga bus, menyembunyikan retakan di wajahnya yang tak ingin dia perlihatkan padaku.

Pintu bus berdentang menutup, mengunci seluruh cerita kami di dalam sana. Dunia mendadak senyap, menyisakan deru mesin angkutan yang menderu rendah. Saat itu juga, dadaku terasa hampa luar biasa. Separuh lagi jiwaku minggat. Aku berdiri terpaku, menatap kosong ke arah Bus yang perlahan menjauh. Meninggalkan aku sendirian di antara debu dan sisa wangi tubuhnya yang pelan-pelan pudar ditiup angin.

***

Dengan rasa lelah yang aneh, aku memasuki kantor, Pak Wawan tampak sibuk di mejanya, seseorang sedang meneleponnya. Dia tampak tertekan. Ruangan itu terasa begitu lengang, hanya menyisakan getaran rendah dari mesin pendingin ruangan yang berbisik konstan di sudut dinding.

Melihat kedatanganku, pak Wawan menutup sambungan telepon. Suara klik gagang telepon yang diletakkan terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mendadak membeku di antara kami.

"Pan, sini sebentar." Katanya lembut. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh kesunyian ruangan.

Aku mendekat ke meja kerjanya. Langkah kakiku terasa berat, terseret di atas lantai keramik yang dingin.

"Pimpinan cabang baru saja menghubungiku, beliau memerintahkanmu untuk bergabung ke PLN Unit di Kecamatan Telabang, sebagai Operator Mesin Pembangkit Listrik."

Kata-kata itu mengambang di udara, luruh satu demi satu tanpa mampu meruntuhkan dinding lamunanku. Aku hampir tak mendengarnya. Pikiranku masih dipenuhi kecupan itu. Indah, namun terasa sakit. Kehangatan di pipiku tadi terasa begitu kontras dengan hawa dingin yang perlahan mengepung tempatku berdiri sekarang.

"Aku sudah mencoba mempertahankanmu disini, namun sepertinya, pimpinan punya pertimbangan lain." Pak Wawan menarik napas pendek. Keheningan kembali merayap di antara tumpukan berkas yang berserakan.

Aku masih bermimpi. Segalanya terasa kabur dan berjalan lambat.

Lihat selengkapnya