Waktu meluruh tanpa suara. Empat tahun telah runtuh, dan aku masih tetap di sini. Menjadi operator listrik yang setiap petang menyalakan terang untuk seluruh kampung, tetapi tak pernah berhasil menyalakan kembali cahaya di dalam dirinya sendiri.
Maka setiap senja tiba, aku kembali ke dermaga ini—menjaga sebuah kehampaan yang, entah mengapa, selalu lebih setia daripada harapan. Hingga suatu hari, sebuah pesan radio dari kantor cabang mengudara, khusus ditujukan untukku. Pesan singkat dari abangku, yang dititipkan melalui Pak Wawan.
"Pulanglah segera!"
Ketika Pak Hardi menghampiriku di loket pembayaran rekening listrik, beliau menyampaikan pesan itu dengan raut wajah yang sulit kutebak maknanya. Tanpa banyak tanya, beliau langsung mengizinkanku mengambil cuti dan berjanji akan membantu mengurus seluruh administrasinya. Beliau memintaku untuk segera berangkat hari itu juga.
Dilingkupi rasa bingung dan sejuta pertanyaan yang berkecamuk, aku bergegas pulang ke kampung dengan meminjam sepeda motor dinas kantor.
Di sepanjang jalan, dadaku mendadak terasa sesak. Tanpa alasan yang logis, sebuah kesedihan yang pekat datang menyergap. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang sudah lebih dahulu mengetahui kabar buruk, sebelum telingaku sendiri menerimanya.
Air mata luruh begitu saja tanpa mampu kutahan. Jalanan yang sepi di hadapanku perlahan mengabur, seolah tertutup kabut tebal. Di tengah pandangan yang samar itu, bayangan Ayah tiba-tiba melintas di kepala.