Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #24

Ayahku

Aku duduk termenung sendirian di teras rumah yang lengang. Ingatanku masih terlempar ke hari pemakaman itu. Hari ketika Ustaz Muharom melangkah masuk ke rumah kami, memimpin salat jenazah untuk Ayah dengan khidmat yang senyap.

Seusai tanah merah merapat, beliau berjalan menghampiriku. Sebuah tepukan perlahan mendarat di pundakku. Ustaz Muharom menatap lurus ke mataku—sebuah tatapan panjang yang seolah sedang menakar beratnya dukaku. Beliau menghela napas, lalu duduk di sampingku. Di kursi kayu itu, tidak ada kata yang lahir. Kami hanya melebur dalam diam, membiarkan waktu merangkak lambat, hingga sebuah tepukan lembut di bahu menjadi tanda beliau pamit pulang.

Lalu, telepon dari Aina Munaroh malam itu. Suaranya di seberang sana pecah dalam isak yang hebat begitu mendengar getaran suaraku yang parau. Dengan nada penuh penyesalan, ia memohon maaf. Kuliah di ibu kota provinsi mengikat kakinya, membuatnya tak bisa pulang untuk ikut mengantarkan ayahku ke persemayaman terakhirnya.

Di sudut teras yang lain, sahabatku, Ibam hadir dan tampak kusut. Asap rokok dari bibirnya mengepul pekat, bergulung dan luruh ditiup angin malam. Aku tidak memedulikannya, dan ia tahu itu. Ayah kandung Ibam sudah lama tiada. Sahabatku itu paham betul bagaimana duniaku runtuh saat ini, tanpa perlu sepotong kata pun diucapkan.

Malam ini, aku kembali memilih teras. Sendirian.

Lihat selengkapnya