Setahun setelah kepergian Ayah, aku ditugaskan kembali ke kampung halaman.
Kini, hanya ada aku dan Ibu di rumah ini. Wajah Ibu kian menua, gersang oleh waktu. Ia telah melepaskan seluruh kesibukan masa lalunya, pensiun dari jabatan menteri keuangan, dan memilih menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian rumah tua kami.
Di tahun yang sama, Aina Munaroh menyelesaikan kuliahnya. Suatu sore, Ustaz Muharom memanggil kami berdua. Di hadapan kami, beliau berbicara dengan nada rendah yang bergetar, mengatakan bahwa sudah saatnya menunaikan janji yang pernah diikat bersama almarhum Ayahku.
Kupandangi Aina. Ia tersenyum lembut—sebuah senyuman yang persis seperti pertama kali aku melihatnya. Teduh, seolah mampu meredam seluruh badai di kepalaku.
Hari pernikahan pun dirancang. Ibam menjelma menjadi orang yang paling sibuk, menyeretku ke sana kemari seolah takut aku akan berubah pikiran. Di sela-sela kepanikannya, ia masih sempat membual dengan suara yang sengaja ditekan, seakan membagikan rahasia besar.
"Kau tahu, Kawan? Bukan Ustaz Muharom yang menjaga Aina di kampus itu." Ibam menepuk dadanya bangga. "Abangmu ini yang menjaganya. Semua anak-anak di provinsi aku kerahkan agar tidak ada yang berani mendekatinya."
Aku menatapnya, tidak percaya. "Abang?"