Senja yang Tak Pernah Pergi

Muhamad Tarmiji
Chapter #26

Senja yang Tak Pernah Pergi

Tujuh tahun telah melintas sejak malam sakral itu. Aina Munaroh memilih mengikutiku, menetap di rumah tua yang menyimpan seluruh kenangan masa kecilku.

"Kasihan Ibu kalau sendirian," bisiknya kala itu. Sebuah kalimat sederhana yang menyembuhkan banyak sepi di rumah ini.

Sore itu, sepulangku dari kantor, aku duduk di teras rumah. Mataku terpaku pada halaman. Di sana, seorang bocah kecil berumur lima tahun sedang berlarian lincah, memecah lengang dengan tawa renyahnya. Anakku.

Aina Munaroh mengambil tempat di sampingku, duduk tenang menikmati embusan angin sore. Sementara Ibu, yang rambutnya kian memutih penuh guratan waktu, ikut melangkah keluar. Mantan menteri keuangan yang dulu tegas itu kini tak pernah lagi mengomel. Langkahnya melambat, dan ia hanya sering mengeluh lirih tiap kali asam uratnya kambuh.

Ibu duduk di dekat kami, bersandar pada sandaran kursi kayu yang tua. Matanya menatap kosong ke halaman, lalu suaranya mengalir pelan, membuka kembali lembaran malam yang paling runtuh dalam hidup kami. Ibu bercerita tentang betapa tak disangkanya Ayah pergi malam itu.

Ibu masih mengingat cahaya lampu lima watt di kamar itu menguning temaram, saat ayahku pergi. Sebuah isak kecil lolos dari bibir Ibu yang mulai keriput. Air matanya berlinang, mengenang bagaimana lelaki pendiam itu berpulang menghadap Penciptanya. Ayahku, yang sepanjang hidupnya tak banyak bicara, bahkan dalam urusan paling khusyuk seperti kematian pun, ia memilih pergi dalam diam yang paling sempurna.

Kami semua membisu. Aina Munaroh bergeser cepat, merangkul pundak Ibu yang kian rapuh.

Aku terdiam, terkunci dalam keheningan yang pekat. Bayangan Ayah melintas lagi, berputar lambat seperti klise film lama. Pria yang selalu menjagaku, yang setia menungguku pulang di teras ini setiap sore, memandangi matahari senja dengan sorot mata teduhnya.

Lihat selengkapnya