Senjakala

Rizal T Fadh
Chapter #2

Rasa Pahit yang Nyaman


Hujan di Jakarta lebih sopan dari warga lokal.

Hari pemecatan itu masih terbayang di benak. Editornya yang selama ini menemani kasus apapun bersamanya, di rapat direksi itu sama sekali tidak peduli dengan batu besar yang menghantam jiwa orang lain.

Air menghantam atap seng sebuah kedai terdengar seperti ribuan jari kecil yang mengetuk-ngetuk. Di luar, jalanan Asmawi berubah menjadi sungai lumpur berwarna cokelat susu, memantulkan lampu neon merah dari warung seberang yang berkedip-kedip.

Siang hari yang buruk semestinya mengusir para pelanggan yang hanya datang untuk foto Latte art di Instagram Story lalu pergi tanpa benar-benar mencicipi kopinya. Tersisa mereka yang membutuhkan tempat berteduh. Lega rasanya jika setiap cangkir dituang dalam ruang yang minim gosip pekerja kantoran.

Di dalam kedai, udara hangat menyentuh kulit. Beraroma biji kopi yang baru digiling, dan sedikit bau petrikor yang tersangkut di bawah pintu.18 gram berkedip stabil di timbangan menjadi satu-satunya hal di hidup yang bisa dikendalikan. Tapi tetap saja, ucapan lantang dari pelanggan bisa menggeser satu gram bubuk kopi.

Doxa menumpahkan bubuk kopi dari cawan khusus ke dalam portafilter. Diratakan dengan jari, lalu ia mengambil tamper.

Tekan. Putar. Lepas.

Bubuk kopi sekarang seperti permukaan aspal. Doxa mengunci portafilter ke mesin kopi tua miliknya.

Kotak besar berkilau itu mendesis. Uap bersiul rendah keluar dari nosel akan menghindari gosip-gosip pelanggan berkemeja rapi — dan lanyard tentunya — dengan kopi dingin di meja-meja mereka.

Ting. Pintu kedai terbuka.

Angin dingin menerobos masuk, membawa serta butiran hujan yang miring, dan seorang gadis bermantel biru yang terlihat seperti baru saja berperang dengan badai. Payungnya patah sebelah, kainnya terbalik menjulang ke atas seperti bunga layu yang aneh. Rambutnya lepek menempel di dahi. Tas selempang di bahu membuatnya harus menyeret diri menuju kursi kayu di pojok ruangan — yang engsel kirinya sudah aus dimakan usia.

"Gue mau mati aja, Do."

Kalimat itu dilempar begitu saja tanpa salam pembuka. Suaranya serak, pecah di tengah-tengah dengungan mesin kopi.

"Mati itu susah." jawab Doxa datar, matanya masih memantau termometer. "Schellin mau Latte? Atau butuh sesuatu yang lebih kuat? Kopi hitam, no sugar, no mercy?"

Schellin mengembuskan nafas keras dari mulutnya. Dia melempar tas selempangnya ke meja dengan kasar. Tas itu jatuh dengan bunyi buk, menggeser asbak kosong di atasnya.

"Ibu gue..." suara Schellin naik setengah oktaf. "Dia kirim link jam lima pagi, pas gue baru mau tidur. Padahal gue abis begadang ngerjain skripsi."

Doxa mematikan siul dari nosel, mengelap ujungnya dengan kain bersih, menuangkan susu ke dalam cangkir keramik putih. Pola daun pakis terbentuk sempurna. Kopi miliknya sudah ia seduh, tersisa satu cangkir lagi untuk pelanggan tetap yang tiba-tiba datang ini.

Lihat selengkapnya