Senjakala

Rizal T Fadh
Chapter #1

1. Rasa Pahit yang Nyaman

 

Hujan di Jakarta lebih sopan dari warganya.

 

Suara air menghantam atap seng sebuah kedai terdengar seperti ribuan jari kecil yang mengetuk-ngetuk. Di luar, jalanan Asmawi berubah menjadi sungai lumpur berwarna cokelat susu, memantulkan lampu neon merah dari warung seberang yang berkedip-kedip.

Di dalam kedai udaranya hangat. Beraroma biji kopi yang baru digiling, kayu lapuk, dan sedikit bau hujan yang tersangkut di jaket denim seorang laki-laki akhir 20an.

Doxa menyukai pagi hari yang buruk seperti ini. Hujan mengusir para pelanggan yang hanya datang untuk foto Latte art di Instagram Story lalu pergi tanpa benar-benar mencicipi kopinya, tersisa mereka yang membutuhkan tempat berteduh. Lega rasanya jika setiap cangkir dituang dalam ruang yang minim kegaduhan.

Angka 18.0 gram berkedip stabil menjadi satu-satunya hal di hidup Doxa yang bisa dikendalikan. Berbeda dengan berita politik yang penuh ambiguitas, atau algoritma media sosial yang membuat pikiran kebas.

 

***

 

Portafilter di tangan, ia menumpahkan bubuk kopi ke dalamnya, meratakan dengan jari, lalu mengambil tamper.

Tekan. Putar. Lepas.

Bubuk kopi yang sekarang seperti permukaan aspal, Doxa mengunci portafilter ke grup head mesin espresso tua miliknya. Mesin itu mendesis. Uap bersiul rendah keluar dari wand. Dial-in sudah melekat pada kebiasaannya menyeduh kopi. Menyesuaikan grind size, suhu air, dan tekanan ekstraksi sampai rasa kopinya pas.

Kopi yang baik itu tentang kepastian, jika kamu memasukkan variabel yang tepat, kamu akan mendapatkan hasil yang dapat diprediksi. Tidak ada kejutan yang membuat kecewa.

 

Ting.

Pintu kedai terbuka.

Angin dingin menerobos masuk, membawa serta butiran hujan yang miring, dan seorang wanita muda yang terlihat seperti baru saja berperang dengan badai. Payungnya patah sebelah, kainnya terbalik menjulang ke atas seperti bunga layu yang aneh. Rambutnya lepek menempel di dahi. Ada sesuatu di bahu wanita itu yang membuat langkah kakinya berat saat ia menyeret diri menuju kursi kayu di pojok ruangan, yang sandaran kirinya sudah aus dimakan usia.

 

“Gue mau mati aja, Do,”

Kalimat itu dilemparkan begitu saja tanpa salam pembuka. Suaranya serak, pecah di tengah-tengah dengungan mesin kopi.

Tangan Doxa tetap stabil memegang keran uap, memanaskan oat untuk pesanan sebelumnya. 

"Mati itu susah." jawab Doxa datar, matanya masih memantau termometer. “Schellin mau Latte? Atau butuh sesuatu yang lebih kuat? Kopi hitam, no sugar, no mercy? It's on the house.”

Schellin mengembuskan nafas keras dari mulutnya. Dia melempar tas selempangnya ke meja dengan kasar. Tas itu jatuh dengan bunyi buk, menggeser asbak kosong di atasnya. 

"Ibu gue..." suara Schellin naik setengah oktaf. “Dia kirim link pagi-pagi banget jam lima subuh pas gue baru mau tidur setelah begadang ngerjain skripsi.”

Doxa mematikan steam wand, mengelap ujungnya dengan kain bersih, menuangkan susu ke dalam cangkir keramik putih. Pola daun fern terbentuk sempurna di permukaan kopi.

Lihat selengkapnya