Senjakala

Rizal T Fadh
Chapter #3

Naluri Bukan Bukti


Di kamar kosnya yang gelap, hanya layar ponsel yang menerangi wajah Schellin. Pengharum jeruk dari sudut ruangan nyaris tak tercium di antara tumpukan baju

"Kesel banget," gerutu Schellin, "beranda Twitter gue isinya orang debat semua."

Dahi berkerut, pupil matanya tak berhenti bergerak kanan-kiri, atas-bawah. Gulir ibu jarinya berhenti di satu unggahan.

Schellin mengerjap. Akun @kedaisenjakala — yang sudah lama ia ikuti — mengunggah Tweet pertaman sejak sebulan terakhir: "Butuh bantuan kasual akhir pekan ini."

"S-Senjakala?!" Jantungnya berdegup lebih cepat.

Bergegas memasang alarm di jam 10 pagi dengan label 'Jangan Telat!'

Lampu ruangan dinyalakan, tiap bagian lemari dibuka untuk mencari sepasang pakaian. Baju yang terlipat rapih di laci kini menghampar setengah ruangan. Setelah dapat sepasang, Schellin menggantungnya di pintu.

Hamparan baju ia masukkan kembali ke dalam lemari, mematikkan lampu dan segera tidur.


Drrrt-drrrt

"Duh... ganggu banget sih suaranya." Tangannya meraih ponsel. "Tunggu..." Schellin bangun dari tempatnya, melihat waktu di layar kunci sudah berada di angka 12:23.

Ia langsung bangun, memakai pakaian yang tergantung, dan mengambil tas selempang.

Saat berjalan terserok menuju rak sepatu di dekat gerbang, Ibu kos yang daritadi duduk di sebelah pintu gerbang sudah melihatnya.

"Kamu salah pakai sepatu Schel, punyamu sebelah kanan."

Schellin yang terlanjur memakai sepatu putih milik orang lain, nafasnya tertahan. Cepat-cepat ia ganti dengan miliknya yang juga berwarna putih — bedanya tali itu warna merah muda.

"Ibu, Schellin pergi dulu."

"Hati-hati di jalan, ya."

Tiga langkah ke kiri di luar gerbang, terlihat pedagang mie ayam sedang melayani bapak-bapak berseragam coklat muda.

"Nggak makan siang dulu, Schel?" tanya pedagang itu.

"Nggak Mas, Schellin buru-buru nih."

"Kalau gitu, bawa aja satu bungkus buat bekal nanti."

Schellin terhenti. Mendengar tawaran pedagang itu. Ia membuka-tutup dompetnya yang tipis dua kali.

"Nggak apa-apa." kata pedagang.

Lalu Schellin berjalan menuju halte, langkahnya besar sambil membawa sekantung mie ayam pemberian pedagang tadi.


***


Trotoar di Jakarta sempat tak memiliki kewajiban menampung para pejalan kaki. Tampak banyak motor berdiri menyerong sepanjang trotoar.

Melihat bus sudah berangkat dari jauh, Schellin berlari di bahu jalan.

"Huh... kenceng banget sih busnya? Kalau aja penumpang masih sedikit, gaakan buru-buru perginya," Kata-katanya melayang disapu angin dengan kepulan tipis knalpot bus. Ia menyusuri trotoar, tampak wajah kusut menyertai endapan keringat di punggung membasahi baju belakangnya.

"Schellin!"

Teriak seseorang dari belakang. Nada seorang wanita yang suaranya berebut perhatian dengan gemuruh kendaraan di jalan.

Schellin menengok ke belakang dengan satu alisnya terangkat, tampak mengetahui wanita muda itu sedang membawa skuter matic dan helm berwarna Toska. Lalu skuter itu berhenti di bahu jalan sebelah Schellin berdiri.

"Lo mau kemana?" Tanya wanita muda.

"Mau ke kedai Senjakala nih. Lo sendiri mau kemana?"

"OH!" ia menepuk sadelnya. "Bareng gue aja. Nih helmnya."

Schellin memakai helm, duduk di sadel belakang, lalu skuter itu melaju.

"Kita mampir ke swalayan dulu," sahut wanita muda.

Mereka berhenti di tempat parkir, tapi Schellin tetap berdiri di dekat skuter. Ia menatap langit, tampak biru dengan sedikit gumpalan awan. Hari ini panas banget, gue harusnya minta air dingin juga ke pedagang mie ayam tadi.

Keluarlah wanita muda dari swalayan dengan dua es krim jagung bertuliskan Homemade, ia memberi satu ke Schellin. "Nih, gue rasa hari ini cukup panas."

Schellin merobek bungkusnya, lalu menjilat sekali. "…Yang ini agak asem."

"Hah? Gue rasa manis biasa aja sih. Padahal es krimnya sama," Tawa kecil dan matanya memperhatikan reaksi Schellin lebih lama.

Schellin mengangkat bahu, pandangannya bergerak ke sesuatu di jalan — motor yang lewat, toko di seberang, kabel melayang di salah satu tiang. "Mungkin lidah gue lagi aneh hari ini."

"Gue jarang ketemu lo lagi sejak jadi mahasiswi baru," kata wanita muda.

"Pas banget lo bawa skuter kesini, gue juga seneng lihat lo lagi."

Tak ada balasan lain, mulutnya masih sibuk menghabiskan es yang mulai mencair. Mereka pun beranjak dari tempat parkir setelahnya.

Di jalan Asmawi, dari jauh bus yang meninggalkan Schellin, berhenti.

Satu orang turun di halte.

Lalu dua orang.

Lima.

Lihat selengkapnya