Akhir pekan yang lembab. Suara sepatu melangkah dari arah timur jalan Asmawi, ke kedai Senjakala.
Dari jarak beberapa meter, Schellin melihat plastik bercecer di depan kedai. Doxa tampak sibuk dari kejauhan, memasang kertas bening besar di jendela dengan robekan aneh di tengah-tengah — terlalu simetris untuk sebuah ketidaksengajaan. Schellin tidak mengerti untuk apa dia melakukannya, yang jelas, perutnya bunyi saat mendekati kedai.
Dia tiba menghampiri Doxa yang tangannya meregang, memegang ujung dari kaca film. “Buat apa dipasang begitu, Do?”
Doxa tidak menoleh, jarinya menekan kuat-kuat ke sudut jendela, lalu merapikan sisanya dengan air dan rakel.
Schellin menyimpan tas ranselnya di sebelah pintu kedai. Menunduk serta membawa plastik yang tercecer, “Ini berantakan banget, gue bantu beresin kalo gitu.”
“Pake ini, Schel.” Doxa menawarkan serok dan sapu lidi dekat wajah Schellin yang sedang membungkuk.
“Bau...!” reflek Schellin menghindari aroma busuk di serok itu, “Tau gitu gue ambil sendiri.”
Plastik putih bercecer di bahu jalan. Kontras dengan bangunan di sekitarnya yang pudar, seolah warna-warnanya ikut tua bersama waktu. Tak ada yang peduli pada sampah sekecil itu.
Suara lidi menggerus aspal. Ia mahir memegang gagang sapu, dan serok di tangan lainnya. Seperti melakukan pekerjaan rumah, hanya saja mudah dilihat orang-orang yang melintas. Beberapa sisa permen karet juga menempel di batas trotoar, walau pudar warnanya seperti tembok bangunan, tidak seharusnya berada disitu.
Tersapu halaman depan tanpa sisa plastik, Schellin mengambil tasnya dan melangkah ke dalam. Aromanya steril dengan pengharum ruangan, belum ada sengat kopi yang gagal dibuat. Melihat ke arah dinding, jam menunjukkan angka 12:12.
Ia menyimpan tas ranselnya di kursi pojok ruangan, lalu berjalan menuju counter bar tempat Doxa berdiri mempersiapkan alat-alat penyeduh kopi. "Kalo gue pesen sekarang, boleh?"
Doxa menoleh tanpa membalik badan, “Bikin sendiri aja.”
“Gue panggang roti dulu deh. Soal kopi, gue tunggu alat-alatnya siap.” Schellin bergegas menuju pintu dapur.
Saat pintu dapur dibuka, dominasi warna perak di setiap sudut. Lampu bulat merata di langit-langit membuat bayangan tidak memiliki tempat. Cahaya tajam memantul di meja tengah, terdapat beberapa loyang berjejer terbuka, ia mendekatinya. Kosong. Di sekitar hanya bertumpu rak panjang dengan toples.
Gadis itu membuka kulkas di sudut ruangan, disambut dengan alat pengatur suhu, dan beberapa toples biji kopi dengan tulisan Doxa.
Schellin berjalan pelan ke luar ruangan sambil melihat-lihat sekitar. “Stok roti habis, Do?”
“Habis? Padahal roti belum banyak keluar.” Doxa membuka laci counter, mengambil buku cokelat tua dan membukanya.
Halaman demi halaman.
Dia mengetik, lalu mengangkat ponsel ke telinga. Dering menggema di sekitarnya, Schellin tidak mendengar yang dikatakan Doxa saat berbicara dengan seseorang di ponsel. Yang ia tahu hanya tenggat waktu tugas kuliahnya bersiul di kepala.
Schellin kembali ke tempat duduknya untuk membuka laptop. Sebelum kursor menyentuh file tesisnya, ia bertanya sesuatu.
“Lo punya tukang Roti langganan?” Kata Schellin.
Doxa menaruh ponselnya dan mulai mengelap gelas-gelas. “Beliau yang justru menawarkan diri kesini seminggu setelah kedai baru dibuka.”
“Tahu darimana dia kalau kedai baru dibuka waktu itu?”
“Sosial media.”
Schellin menghentikan jarinya, “Oh, terus yang punya kedai ini siapa?”
“Pertanyaan bagus.” Jawab Doxa.
Pertanyaan bagus? Batin Schellin. Kupingnya bergerak seperti baru sadar ada suara jam, padahal jam itu sudah lama menempel di dinding kedai.
“Alat udah siap.” Kata Doxa.
Schellin berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah bar untuk menyeduh kopi. Dari dalam bar ia melihat ke luar jendela yang sedikit gelap — mobil box terparkir di depan kedai. Seorang pria tua, sedikit gemuk dengan topi khas pembuat roti, keluar dari pintu mobil.
Ting.
Pintu dibuka, “Aku selalu disambut wangi kopi disini.” Kata pria tua, suara sepatunya mendekat ke arah counter, lalu menaruh bungkusan plastik.
“Barista baru yang kau punya, Do?” jarinya menunjuk Schellin yang sedang menghadap mesin kopi.
“Tuan Derek,” kata Doxa, “aku lupa kalau minggu lalu stok roti habis dipesan komunitas lokal.”
“Kau sendiri yang lupa, sekali-sekali masuklah ke dapur.” Tuan Derek tertawa kecil, “Aku akan simpan beberapa roti.”
Kopi siap minum sudah di tangan, Schellin kembali ke pojok ruangan. Layar laptop belum melahirkan kata baru dalam lima belas menit terakhir. Ia bersandar membaca judul bab 5, ‘teori Sense of Place pada Kedai Kopi Independen.’
Tuan Derek menyita perhatiannya, mondar-mandir dari mobil box ke dapur menggandeng peti-peti roti.
Seseorang memakai seragam penyuplai roti mengikuti pria tua itu — beberapa kali melirik Doxa.
Tuan Derek duduk di depan bar setelah menyimpan peti roti terakhir, “Do, kopi dua gelas.” Suaranya berat dan sedikit serak terdengar hingga pojok ruangan.
“Dua gelas, Tuan?”
“Untukku, dan juniorku.”
Lalu Doxa mengangguk, membelakangi pria tua untuk mengambil cangkir dan biji kopi.
Tidak ada rokok menyala di ruangan, tapi baunya terasa sampai ujung. Junior Tuan Derek kemudian masuk. Menyisakan cahaya di luar saat pintu dibuka, lalu ditutup. “Nggak disangka, gue ketemu mantan jurnalis disini.”
Schellin menahan napas saat ucapan Junior Tuan Derek melayang di udara. Tampak Doxa yang sedang mengambil biji kopi terdiam memandang tembok. Mereka saling kenal?
Napas tersangkut di tenggorokan. Sesekali mengelap hidung yang tidak basah. Dari jarak yang hanya dua puluh jengkal dibatasi tiga meja pelanggan, dan tak ada tembok lain selain laptop yang sepertinya perlu diangkat sedikit untuk menutup wajah dari mereka yang ada di bar.