Senjakala

Rizal T Fadh
Chapter #5

Standar Estetika


“Ma-maaf, apa gue telat?” sambut Mira yang baru masuk.

Mira memang seharusnya datang untuk kerja kasual. Padahal jika tidak, Schellin bisa berduaan lebih lama dengan Doxa. Di kedai, baru satu pelanggan yang lebih cepat datang sebelum pramu bersiap saji untuk mereka.

Schellin dengan wajah serius menatap barang aneh berbentuk persegi panjang yang menjulang di tasnya. “Itu bawa apaan, Mir?”

“Eh… anu… gue disuruh analisis lukisan kata dosen. Buat jadi penengah keributan antara pelukis dan… penegak hukum.”

“Ribut karena sebuah lukisan? Coba liat.”

“Jangan, Schel!” suara Mira naik satu oktaf. “Ini… berbahaya, nanti aja!”

Mira cepat-cepat masuk dapur dengan wajah kemerahan. Kata berbahaya dari mulut seorang anak Hukum selalu punya bunyi yang berbeda di telinga anak Seni. Ucapan Mira itu bisa berarti jeruji besi, pasal berlapis, atau teguran dekan. Sedangkan Schellin mendengarnya justru seperti undangan terselubung untuk mengintip sesuatu yang terlarang.

Di dapur juga terdapat loker khusus untuk menaruh barang pribadi selain untuk menyimpan roti, tapi Schellin tetap menyimpan barang di pojok ruangan sebelah pintu dapur, kursi kayu yang sandaran kirinya aus dimakan rayap.

Agenda tersembunyi mampu mengikis ingatan. Sempat lupa bahwa ini sudah akhir pekan. Suasana Minggu siang sejak kepergian Fisher dan Tuan Derek bergulir malas, menyisakan deru mesin espresso yang baru dipanaskan sebagai satu-satunya pengisi kesunyian di antara mereka berdua.

Doxa sibuk menyeka permukaan bar dengan kain setengah basah, mengusap noda air imajiner dengan presisi kaku yang selalu berhasil membuat Schellin gemas sekaligus betah memandangnya diam-diam.

Jarum jam seolah sengaja memperlambat detaknya, memberi Schellin kemewahan untuk mencuri pandang ke arah jemari kokoh Doxa yang sedang menata jajaran cangkir keramik tanpa menimbulkan suara dentingan sedikit pun.

“Lo satu kampus sama dia?” tanya Doxa.

“Iya…” kata Schellin, tangannya meraih sepotong roti yang tersisa satu di piring. “Cuma beda jurusan. Gue seni, dia hukum.”

Dengan wajah sedikit datar, Doxa membuka lacinya, menaruh buku cokelat tua itu di atas counter. Ia terlihat sedang menulis sesuatu yang tak Schellin mengerti.

Mira berjalan menghampiri counter sambil mengikat apron di belakang punggungnya. Rambutnya yang pendek sebahu tampak acak — mungkin dia lupa beli sisir di swalayan.


Ting.

Pelanggan mulai berdatangan serta menyambut kursi yang tertata rapi. Pesanan diterima Schellin dengan jari yang terus menekan-nekan tombol layar, rupanya mengetik catatan pelanggan lebih sulit dari yang ia kira.

Ketukan ujung kuku Schellin pada permukaan tablet makin lama makin cepat dan berantakan seiring memanjangnya barisan di depan kasir. Keringat mulai merembes halus di sepanjang tengkuknya ketika kertas struk mendadak macet tepat di tengah-tengah antrean pesanan es kopi susu yang tak kunjung putus.

Layar digital yang terlalu silau itu membuat matanya perih, memaksa otot bahunya mengencang kaku karena harus berulang kali membatalkan salah input akibat jempolnya yang mendadak terasa kikuk.

Bunyi berdenting dari pintu kedai yang terus-menerus menyambut pelanggan baru terasa seperti kepungan yang memburu, membuat tenggorokannya terasa kering tanpa sempat ia basahi sepanjang sif yang bising itu.


Siang berganti malam, menjelang closing untuk hari yang hinggar binar. Anehnya, aroma kopi kurang bersahabat dengan hidung di malam ini, mungkin karena Doxa membuat kopi gosong. Baunya menyiksa sekali. Andai saja hidung memiliki tombol buka-tutup.


Srrt-srrt.

Mira menyemprot cairan pembersih anti rayap ke beberapa meja, lalu mulai mengelap bundarnya meja itu, sampai-sampai badannya memutari bentuk meja.

Schellin hendak menyapa Mira. Hanya saja ia belum berani melangkah keluar counter. Di satu sisi hitung-hitungan uang hasil penjualan belum selesai dijumlah, di sisi lain pikirannya melayang ke lukisan yang Mira bawa.


“Mir, soal lukisan itu?” sahut Schellin di balik counter kasir.

Dari yang sedang berputar mengelilingi meja, Mira refleks diam, melihat ke arah Schellin. “Oh! Gue lupa…”

Penyemprot meja dan lap ia tinggalkan di atas meja, lalu bergegas masuk ke dapur mengambil barangnya.

Ketukan hujan di atap seng mulai terdengar, meminta izin untuk menemani mereka dalam keadaan cahaya remang kedai dan gelap di luar, menyisakan pantulan lampu neon dari warung di seberang jalan.

Schellin mengetuk-ngetuk meja dengan ritme cepat, kakinya naik turun. Meski di sebelahnya — hanya berjarak tiga langkah — Doxa sedang menyeduh tiga cangkir kopi.


Jam di dinding menunjukkan angka 23:27. Waktu dimana Schellin seharusnya pulang ke kos. Tapi kali ini, ia tak mampu beranjak pergi. Pandangannya beralih ke Doxa yang sedang menyeruput espresso berkali-kali dari cangkir mungil itu, lalu membuang isinya ke wastafel — dua kopi lain juga diperlakukan sama.

Gemericik air yang membilas sisa cairan hitam ketiga di wastafel itu pelan-pelan menyedot habis seluruh atensi Schellin, membuat fokusnya pada tumpukan catatan di depannya buyar tanpa sisa. Ada sesuatu yang magnetis dari cara Doxa bergerak — tenggelam dalam dunianya sendiri seolah kedai malam ini tidak sedang dihuni oleh siapa pun kecuali mesin kopi dan dirinya.

Apa yang sedang berputar di dalam kepala seorang pria bisa begitu khusyuk merayakan kesendirian di jam hampir tengah malam?


“Do, gue penasaran deh. Empat tahun lagi lo udah kepala tiga, nggak bosen apa sendirian mulu?” refleks Schellin menopang dagu dengan kedua tangan dan membiarkan kalimat itu lolos begitu saja.

Doxa membuka pintu kabinet. “Belum bosen.”

“Di luar sana gue liat orang-orang ramai gandengan tangan tanpa ngerasa bersalah. Gitu juga tadi siang pas gue layanin mereka disini. Lo nggak mau kayak mereka gitu?”

“Suatu hari nanti. Tinggal gue cari yang siap aja.”

“Kapan? Sama siapa?”

Doxa mengeluarkan mesin pemanggang otomatisnya. “Gue mau bikin roti lapis dulu buat kalian.”

Lantas Schellin menghitung jumlah penjualan dengan jari — yang tak disangka membuatnya lebih cepat selesai — daripada pakai kalkulator di sebelah tablet.


Langkah kaki terdengar mendekati counter, ketukan sepatu terasa berat di kuping.

“Schell.” suara Mira memecah keheningan counter. Tampak ia memeluk di dadanya sebuah lukisan dengan erat. Drrk. Ia lalu menarik kursi pelanggan.


Schellin mengangguk. Waktu ia sisihkan untuk membantu Mira. Saat meraih kursi, ia masih menatap gadis itu yang masih berdiri tegak memeluk lukisan, jari-jarinya bersembunyi di balik kain penutup kanvas abu-abu.

“Boleh liat dulu?” kata Schellin lembut.

Mira meletakkannya perlahan di atas meja, gerakannya penuh kehati-hatian, lalu ia menyingkap kain penutup.


“Mira…?!”

Lihat selengkapnya