Senjakala

Rizal T Fadh
Chapter #1

Doxa


"Kamu yang tanda tangan investigasi Rengganis?" suara Fabas pelan di seberang mejanya seraya mengambil sebuah kertas dan pulpen merah.

Jam berdetak lambat. Di ruang rapat terdengar dengung server dari ujung koridor menembus celah-celah dinding, kursi bergeser di kubikel lain, percakapan yang bocor masuk ke celah pintu. Suara-suara itu seperti jarum halus menusuk selaput timpani.

Di kursi sebelah Doxa, seorang editor duduk dengan bahu kaku, tertunduk arah pandangnya seakan tak berdaya mendengar seseorang yang akan bicara di hadapannya.

"Iya… tapi… faktanya sudah diverifikasi, Bas."

"Omong kosong!" Fabas membanting telapak tangannya ke meja. Doxa tercekat. Rahangnya mengeras, seketika ia sulit menelan ludah. Berdebat sekarang sama saja dengan bunuh diri. Akan tetapi, kematian hadir lebih dulu di depan mata.

"Kasus itu sudah jadi bola liar, pengiklan mundur, dan legal sudah telepon tiga kali minggu ini," Fabas menyipitkan mata. "Kamu punya kepentingan pribadi, Doxa. Kita semua sudah tahu."

Kita semua?

Ia melirik ke sebelah, pandangan rekannya itu terpaku pada dinding kosong. Para direktur di sebelah Fabas juga tak melirik sedikit pun. Dingin menjalar di punggung, mereka membiarkan seorang jurnalis menjadi domba buruan bagi mangsa-mangsanya di kantor.

Pria berjas hitam itu menyodorkan selembar surat putih. "Ini cara perusahaan mengatasi masalahmu."

Sesuatu yang berat menimpa tepat di dada begitu menatap surat pemecatan. Hampa menguap di balik tulang rusuk, berlalu menyisakan sejuk di kulit akibat pendingin ruangan.

Integritas yang dibangun selama bertahun-tahun, malam-malam lembur untuk verifikasi fakta lapangan, setiap risiko yang diambil demi kebenaran kasus, diringkas dalam selembar kertas A4 yang bisa dibuang kapan saja ke tempat sampah.

Tidak, tidak. Jangan dibuang ke tempat sampah. Cukup gatal jemari ini untuk meremas kertas menjadi bola kecil dan melemparkannya ke wajah Fabas. Lalu pulang dengan membakar seluruh isi ruang server yang berisik di ujung koridor hingga hasil-hasil investigasi terjejal panas. Kebenaran tampaknya bukan mata uang yang berlaku di kantor ini.

"Baiklah."

Ia berdiri, kursinya berdecit pelan. Sorotnya menghadap mereka yang masih mematung di tempat duduk, lalu berjalan ke arah pintu keluar.

"Doxa…" sahut Fabas.

Langkahnya terhenti, tapi ia tidak berbalik.

Lihat selengkapnya