Senjakala

Rizal T Fadh
Chapter #6

Mesin dan Manusia

Doxa baru menutup kedai pukul tiga pagi. Sebab dua entitas kasual penghuni kedai membahas lukisan kontroversial dan bersih-bersih setelahnya. Sesampainya di apartemen ia memberitahu Ibu yang sedang santai dengan bukunya di sofa, kalau kopi yang diseduh sering menghasilkan wangi tak menggugah dan rasa tak sedap.

Livy, Ibu Doxa, berjanji agar kedai hari esok dan seterusnya akan terus beroperasi dengan atau tanpa mesin. Doxa hanya mengangguk, lantas pergi ke kamar tidurnya.

Lampu belajar yang menyorot sudut meja memantulkan bayangan siluet Doxa pada dinding kamar yang lengang. Di atas meja yang berantakan, perhatiannya tertahan oleh tiga cangkir kertas berisi sampel seduhan yang ia bawa pulang.

Ia meraih buku cokelatnya, mengabaikan letih yang mulai berdenyut di pelipis. Jemarinya menelusuri kolom-kolom tabel berisi komposisi kopi, memetakan kegagalannya sejauh ini. "Suhu air 93, durasi 25 detik," semua angka menunjukkan presisi yang mutlak. Namun, rasa sepat tak lekas meninggalkan mulut semalaman.

Pandangannya tertuju pada catatan berat bersih bubuk kopi, sebelum dan sesudah ekstraksi. Seduhan pertama dan ketiga membuat lidah terus mengecap. Sedangkan yang kedua sukar ditelan. Produsen kopi bisa saja berbuat curang kalau kopi yang dipesan ditukar dengan yang sudah basi.

Pena diletakkan begitu saja, pandangannya lurus ke langit-langit kamar sembari membayangkan aliran kopi mengucur deras ke cawan, gerigi terus berputar menghasilkan gerak mesin, uap mengepul saat air mulai didinginkan. "Fluktuasi tekanan di pressure gauge... kerak kalsium kayaknya mampet di jalur pipa tembaga, atau mungkin gasket karetnya aus... jadinya nggak seimbang," Doxa menarik napas panjang, menutup buku cokelatnya dengan ketukan pelan. Ia meraih lembaran kertas lalu merebahkan diri di kasur. "Kopi yang nggak sejiwa itu... gue yakin masalahnya bukan di lampu kuning kedai."

Lembaran kertas A4 menyelimuti wajah selama tidur. Sepasang earphone tergeletak di samping bantalnya, sesekali siaran radio terdengar samar, ditutup derau putih mengisi keheningan.

Suara samar di ruang tamu mengisi hening ke dalam kamar, diikuti dengan ketukan di pintu. Ibu memanggil dengan lantang kalau hari ini akan pergi ke kedai bersama-sama. Ada sedikit perubahan nada di akhir panggilan itu, yang jika Doxa masih pasrah di kasur, habislah dia.

Tak ada kata terlambat walau jeda satu menit. Cara Ibu bisa mengubah kebiasaan bangun siang ala orang-orang tropis seolah tinggal di Tromsø, kampung halaman Ibu yang dingin beku yang orang-orangnya bangun lebih pagi.

Doxa beranjak dari kasur. Tangan langsung meraih seragam berwarna biru yang tergantung di dinding, kancingnya naik sebelah saat mulai dipakai. Ia menghiasi leher dan pergelangan tangan dengan parfum yang biasa ia pakai saat bekerja, jemarinya menyisir rambut yang seperti sarang burung. Dalam lima menit, ia keluar dari kamar seraya menyusun ulang kancing bajunya.

Pagi menyusup lewat jendela kaca besar, menyelimuti ruang tamu dengan cahaya hangat. Beberapa lantai di bawah, deretan lampu neon memantulkannya dalam warna putih dingin di atas lantai beton.

Doxa membuka pintu depan sebelah kiri sedan, jok kulit selalu mengeluarkan bau samar saat ia duduk di kursi penumpang. Ibu yang akan menyetir seperti biasa. Sepanjang perjalanan menuju kedai, obrolan di pasar dilontarkan tanpa permisi. Debat kusir pedagang sayur dengan pelanggan, tukang daging yang menolak menurunkan harga karena pisau yang baru saja ia beli impor dari luar negeri.

Ia beberapa kali menatap ke samping kaca mobil. Semenjak berkenalan dengan kawan pasar — Doxa memanggilnya begitu — Ibu lebih banyak bercerita. Andai pasar itu pindah ke Eropa Utara, belanja sayuran akan berjalan lebih cepat. Musik saja tidak dinyalakan sejak Ibu masuk mobil, katanya supaya tidak ada yang memotong pembicaraan. Hal yang lumrah di Tromsø justru membuat Doxa berpikir dua kali di Jakarta.

Sesampainya di jalan Asmawi ia melangkah keluar dari sedan ke pintu depan kedai. Doxa membutuhkan tenaga ekstra pada saat memutar kunci hingga pintu mau terbuka. Bahu ditempel ke papan pintu, tangannya sedikit menarik gagang ke arah luar.

Grek.

Ting.

Kaki mulai melangkah ke dalam, wangi cairan pembersih lantai masih membekas semalaman. Mira memang ahlinya membuat lantai yang semula bau apak, menjadi wangi sitrus yang menggantung di udara.

Doxa beranjak ke balik bar, ia langsung memeriksa mesin dari bagian yang paling mungkin jadi biang masalah: gasket, group head, pump pressure. Tangannya ke sana kemari, tapi pikirannya menuju dua titik — kopi gosong semalam, dan kopi tidak sejiwa dua minggu lalu.

Livy masuk. Dia nyalakan lampu, lalu berjalan ke kasir. Alat pencetak berdengung mengeluarkan lembaran transaksi.

Lonceng berbunyi lagi, kali ini pintu dibuka oleh pelanggan pertama. Livy yang di kasir langsung terima pesanan tanpa terbata-bata. Beberapa detik kemudian pelanggan itu ingin memesan Latte hangat.

Mendengar pesanan itu, tangan Doxa yang semula mengelap group head, berhenti.

Latte butuh ekstraksi yang tak bisa dilakukan secara manual, kalau diseduh memakai alat yang salah, yang tertuang justru kopi susu tawar.

Karena itu ia menoleh pada Ibunya, menggeleng halus sebagai isyarat kalau itu tidak bisa dibuat.

Lihat selengkapnya