Dunia ini adalah sebuah panggung di mana naskahnya sering kali telah ditulis sebelum kita sempat menarik napas pertama.
Tak ada seorang pun dari kita yang diberi kesempatan untuk memilih di rahim mana kita akan dititipkan, atau di bawah atap seperti apa tangis pertama kita akan menggema.
Ada yang lahir di balik dinding-dinding marmer yang megah, di mana setiap keinginan adalah perintah dan kemiskinan hanyalah dongeng pengantar tidur. Namun, ada pula yang dipaksa menghirup aroma debu sejak fajar, lahir di atas dipan bambu yang berderit, di dalam sebuah rumah di mana atapnya sering kali berselisih dengan hujan.
Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari darah biru yang terhormat atau dari keringat buruh yang lelah. Kita tidak bisa memesan angka-angka di saldo bank orang tua kita atau menentukan seberapa kokoh tembok yang melindungi kita dari badai ekonomi.
Namun, di sinilah letak keadilan semesta yang paling sunyi.
Meski kita tak punya kuasa atas garis awal, kita memiliki kedaulatan penuh atas setiap tapak kaki yang kita jejaki setelahnya.
Hidup bukanlah tentang seberapa indah rumah tempat kita bermula, melainkan tentang seberapa luas hati kita untuk menerima dan seberapa teguh punggung kita saat memikul beban takdir.