Bagi banyak orang, perceraian orang tua adalah kiamat kecil yang meninggalkan luka permanen. Namun bagi Karsa, ingatan tentang ibunya yang pergi saat ia berusia lima tahun hanyalah sebuah fragmen kabur, seperti siaran televisi lama yang penuh semut.
Waktu telah menyapu sisa-sisa kesedihan itu, menggantinya dengan rutinitas yang hangat bersama ayahnya.
Hidup mereka memang "pas-pasan", tapi tak pernah terasa kekurangan.
Ayahnya, seorang pria berseragam biru kusam khas pegawai Dinas Perhubungan, adalah menara kekuatan bagi Karsa.
Setiap pagi, Karsa melihat ayahnya menyisir rambut dengan rapi sebelum berangkat bertugas, menjaga kelancaran jalanan kota, sementara Karsa sendiri tetap di rumah dengan laptop pemberian dari mantan kekasih yang percaya bahwa Karsa akan jadi penulis hebat.
Tinggi badan 165 sentimeter mungkin membuatnya tampak mungil di tribun penonton, tapi di balik layar komputer, Karsa adalah raksasa.
Selepas lulus SMA, ia tidak memilih jalur konvensional. Ia menemukan dunianya dalam 90 menit pertandingan sepak bola.
Sebagai penulis freelance berita sepak bola, hari-hari Karsa diisi dengan menganalisis taktik, merangkai narasi tentang kemenangan dramatis, dan mengetik ulasan tajam tentang transfer pemain yang tak masuk akal.
"Sepak bola itu seperti hidup kita, Pak," ujar Karsa suatu sore saat mereka menyeruput kopi di teras rumah yang sempit. "Tak perlu jadi tim terkaya untuk bisa menang. Kadang, serangan balik yang tepat sasaran sudah cukup."
Ayahnya hanya terkekeh, bangga melihat anak tunggalnya tumbuh menjadi pria yang mandiri.
Di rumah itu, tidak ada drama perpisahan yang disesali. Hanya ada suara ketikan keyboard Karsa yang beradu dengan suara sepatu takala ayahnya melangkah sepulang kerja.